Sang Surya bersembunyi di balik langit Jakarta yang mendung. Burung-burung pun tak berkicau seperti biasanya seolah takut akan suasana yang ada. Awan mendung mulai menurunkan hujan seolah ingin menghalangi Sang Surya agar tak bersinar hari ini. Tetes-tetes air hujan yang turun dengan derasnya mulai membasahi kaca jendela kamar Gita yang sedari tadi duduk di depan jendela kamarnya untuk memandangi sang hujan. Gita adalah seorang siswi SMA Bintang Terang. Dia memiliki rambut hitam yang panjang dan kulit kuning langsat. Dia juga termasuk siswi yang cerdas dan berprestasi di sekolahnya. Gita pun beranjak dari tempatnya dan mulai berjalan menuju meja belajarnya untuk mengambil novel yang ia letakkan di lemari meja belajarnya. Saat mengambil novel, Gita tak sengaja menemukan sebuah kotak yang tidak terlalu besar di dalam lemari itu. Gita pun membawa kotak itu menuju ke tepi jendela dan mulai membuka kotak itu. Mahkota bunga. Itulah isi dari kotak itu. Pikirannya pun seolah melayang menuju masa kecilnya. Saat dimana Alvin, salah satu sahabat Gita memakaikan mahkota itu di kepalanya.
“Vin...gue kangen banget sama lo. Apakah disana lo baik-baik aja lalu dimana sekarang lo tinggal ? apakah lo masih tetap sama seperti Alvin yang dulu gue kenal ?” ucap Gita sedih. “Gue juga udah maafin kesalahan lo waktu itu karna lo pergi tanpa pamit ke gue dan ninggalin gue sendiri disini padahal saat itu lo udah janji ke gue kalau lo akan selalu ada di samping gue.”
Cukup lama Gita mengingat kejadian-kejadian itu sebelum ia mulai memasukan kembali mahkota itu ke dalam tempatnya semula dan meletakkannya kembali ke tempat ia mengambil kotak itu sebelumnya. Hujan pun masih turun dengan derasnya tanpa ada satu orang pun yang tahu kapan hujan ini akan berhenti, kapan awan mendung akan menghilang dan kemudian membiarkan sang surya bersinar kembali.
***
Keesokkan harinya, sang surya mulai menampakan diri setelah kemarin tertutup awan mendung. Seperti pagi biasanya. Terdengar suara nyaring Gita menyapa semua orang yang ada di meja makan.
“Pagi ayah....pagi bunda....” sapa Gita sambil mencium pipi ayah dan bundanya.
“Pagi sayang,” ucap kedua orang tuanya.
Tiba-tiba terdengar bunyi klakson mobil Sita yang mengaggetkan Gita.
“Bun, Gita berangkat sekolah dulu ya ? Nggak enak sama Sita. Takut kelamaan nunggu,” pamit Gita.
“Nggak makan dulu ?” ucap Bundanya.
“Nggak usah deh, Bun. Nanti Gita makan di kantin aja. Lagian ini kan udah siang, takut kena macet di jalan,” balas Gita.
“Ya, udah sana. Hati-hati di jalan,” ucap Bundanya.
“Ok.....dah ayah...dah bunda....” jawab Gita.
Sesampainya di jalan depan rumahnya, Gita langsung buru-buru menengok ke dalam mobil Honda Jazz biru milik Sita.
“Hai, Sit..kelamaan ya ?”
“Nggak juga..gue juga baru sampai kok. Udah cepetan masuk. Takut telat nih.”
“Oiya..lupa,,hehe..Ayo,,Let’s go !!!”
***
Selama perjalanan menuju ke sekolah, mereka berdua pun terus menerus bercanda dan saling tertawa. Pukul 06.55 mereka berdua tiba di sekolah. Sekolah mereka memiliki 3 lantai dengan halaman yang cukup luas dan banyak pepohonan yang membuat sekolah itu menjadi sejuk. Ditambah lagi sekolah mereka merupakan salah satu sekolah terbaik dan favorit di daerah itu.
“O iya Git, gue lupa kalau gue mau ke kantor nyerahin tugasnya Pak Yohanes gara-gara kemarin gue gak masuk. Sorry ya ? Lo ke kelas dulu aja. Nggak apa-apa kan ?,” ucap Sita.
“Gak apa-apa. Gue ke kelas dulu ya, Ta ?” jawab Gita.
“Ya udah, gue ke kantor guru dulu ya, Git” ucap Sita.
5 menit kemudian Bu Tati masuk ke kelas Gita. “Pagi anak-anak,” sapa bu Tati.
“Pagi bu.........” jawab satu kelas serempak.
“Anak-anak....pagi ini kalian kedatangan teman baru. Dia pindahan dari Palembang. Sini nak masuk.”
Masuklah seorang cowok ke dalam ke kelas Gita.
“Ayo nak, perkenalkan dirimu !” perintah Bu Tati.
“Nama saya Vino. Pindahan dari SMA Bintang Terang Palembang,” ucap Vino.
Setelah itu kelas yang tadinya tenang kini menjadi ramai oleh suara dari anak-anak satu kelas. Namun hanya Gita yang dari tadi terdiam memandangi cowok itu. Rasanya Gita mengenal cowok yang satu ini tapi siapa ?
“Vino, kamu duduk disana ya ?” perintah bu Tati sambil menunjuk bangku kosong didepan Gita.
“Eh, Ta. Lo kenapa ? Kok diem terus dari tadi,” tanya Sita.
“Ooohh.....nggak kenapa-napa,” jawab Gita.
“Ya udah deh gue kirain lo kenapa,” ucap Sita.
Teng....teng...teng.....
Akhirnya jam pulang pun tiba. Hujan turun tiba-tiba. Gita tampak bingung. Sita udah pulang duluan karena dia harus nganterin mama tercintanya ke mall buat beli kado untuk Omanya. Udah gitu Gita nggak bawa payung lagi. Akhirnya Gita mutusin buat lari ke depan sekolah. Padahal hujan lagi deras-derasnya. Namun ditengah lapangan, ada seseorang yang berhenti di samping Gita. “Nih, jaket biar lo nggak basah,” ucap Vino sambil berhenti sejenak memberikan jaket miliknya kepada Gita. Lalu Vino langsung berlari tanpa mendengar ucapan terima kasih dari Gita.
***