Untuk Tuan yang entah sedang apa.
Untuk Tuan yang entah bagaimana kondisinya sekarang.
dan Untuk Tuan, tempat dimana rindu ini berlabuh.
Wahai Tuan, tahukah engkau?
tahukah bahwa aku merindukanmu?
tapi Aku ragu kalau ku juga merindukanku
Aku juga ragu kalau kau menginginkanku.
Tuan......
Apakah Aku salah jika merindukanmu?
Apakah Aku salah jika menyayangimu?
Apakah Aku salah jika mencintaimu?
dan apakah Aku salah jika Aku menginkanmu menjadi imam hidupku, menjadi imam bagi anak-anakku, imam bagi anak-anak kita?
Yah...walaupun belum tentu Kau memiliki keinginan yang sama denganku.
Aku...
Aku...orang yang dulu mengacuhkanmu.
Aku...orang yang dulu menganggapmu semu.
Aku...yang dulu menganggapmu hanya sewajarnya saja
dan Aku..orang yang dulu hanya bisa menangis di hadapanmu, menangisi "dia" yang menyia-nyiakan hati ini. Hati itu yang kini ku persembahkan untukmu serta Aku...yang tak pedulikan betapa sakitnya engkau waktu kuceritakan semua tentang "dia".
Betapa BODOHnya Aku.
Aku yang tak melihat semua perhatian yang kau berikan untukku dengan sepenuh hatimu.
Lalu? Apa yang dapat Aku lakukan untuk menebus semua dosaku padamu, Tuan?
Sementara Aku hanya memiliki rindu. Rindu yang berisi rasa sayang dan rasa penyesalan.
Bolehkah kuberikan rindu itu untukmu, Tuan?
Walau aku tak tahu apakah Kau mau menerima rindu ini.
Kumohon Tuan, terimalah rindu ini. Simpanlah erat-erat dalam hatimu. Di dalam relung hatimu. Di dalam sanubarimu.
Aku...hanya bisa menunggumu disini.
Menunggumu untuk kembali.
Menunggumu untuk mendatangiku disini.
Memintaku dari kedua orang tuaku.
Memintaku untuk menjadi bagian dari hidupmu sampai maut memisahkan kita.
Satu pertanyaan untukmu, Tuan. Apakah Aku salah meminta seperti itu kepadamu atas semua yang telah kulakukan padamu?
tapi Tuan, setulus hati, Aku mengatakan bahwa "Kumerindukanmu, Tuan."