Tuesday, 17 December 2013

Seperti Halnya Pesawat

Seperti halnya pesawat.
Kepergianmu seperti halnya pesawat yang meninggalkan seorang anak kecil dibawahnya ketika ia (pesawat) terbang di angkasa. Di langit yang biru dengan dan atau tanpa awan.
Anak kecil yang dengan polosnya meminta sesuatu darinya. Meminta sesuatu yang jelas-jelas tak bisa anak kecil itu dapatkan.
Sesuatu yang mustahil. Bagaimana mungkin anak kecil meminta uang banyak dari sebuah benda bernama pesawat. Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa?
Tapi anak kecil itu tetap berharap, tetap mempunyai harapan atas hal tersebut. Sangat polos sekali anak itu. Tak peduli pesawat itu mau mendengar atau tidak apa yang anak itu mau dan apa yang anak itu minta. Pesawat terus melaju menuju jalan yang telah ditentukan. Jalan yang telah ia pilih.
Mungkin disini aku seperti anak kecil itu. Selalu meminta, selalu berteriak, selalu mempunyai harapan suatu hari kamu mendengar apa yang kumau dan apa yang kuminta tanpa pernah peduli kamu mendengar atau tidak, tanpa pernah peduli kamu mau merespon dan berpaling atau tidak. Tapi nyatanya dan senyatanya tetap terus melaju meninggalkan seseorang disini yang mempunyai harapan terhadapmu. Seperti pesawat yang meninggalkan seorang anak kecil dengan harapan-harapan yang anak itu miliki.
Kamu tahu? Semakin aku mencoba melupakanmu semakin aku ingat, semakin aku sakit dan semakin aku kecewa. Dan sekali lagi ada yang bertanya padaku, apa sih yang kusuka darimu? Kamu tahu jawabanku apa? Aku menjawab, tak tahu. Aku tak tahu apa yang membuatku seperti ini padamu. Mungkin ini yang namanya cinta tanpa alasan.
Mungkin juga aku tak butuh alasan atas semua itu. Atas semua rasa ini. Seperti halnya seorang anak kecil yang tak butuh alasan kenapa ia meminta seperti itu pada pesawat. Pada sebuah benda mati. Meskipun anak kecil itu berkata "Beri aku uaaaannngg, Pesawat." tapi pasti jauh dilubuk hatinya bukan itu yang ia mau. Bukan itu yang ia inginkan. Karna apa yang ia ucapkan belum tentu itu yang ia mau. Belum tentu itu yang ia inginkan. Aku mungkin bisa berkata aku melupakanmu tapi tentu bukan itu yang kuinginkan. Bukan itu yang kurasakan.
Ya, seperti halnya pesawat. Seperti halnya anak kecil itu yang harus ikhlas melepaskan pesawat itu pergi tanpa pernah mendapat apa yang ia (anak kecil itu) mau. Terselip do'a diantara beberapa harapan. Semoga Allah swt mengganti dengan yang baru dan yang lebih baik darimu. Amin

To : Madiun

Monday, 9 December 2013

Aku penonton dan Kamu pemain utama

Melepasmu ke udara. Seperti melepas semua ingatanku tentang kamu. Melepas semua memori itu. Melepasmu ke udara. Berat. Tak seperti melepas orang-orang sebelummu.
Ada haru, ada kebahagiaan, ada kesedihan, ada cemburu dan ada rasa iri.
Ceritamu memang seperti kisah sinetron. Kamu sebagai pemain dan aku sebagai penonton. Ya hanya penonton.
Kamu. Pemain yang memperjuangkan cintamu. Memperjuangkan kisah cintamu beberapa bulan yang lalu. Kamu kembali kepada orang yang dulu memutuskan semuanya. Kamu masih memberikan separuh hatimu untuknya meskipun kamu berucap tak ada rasa apapun padanya tapi sorot matamu berbeda dan aku? Aku hanya sebagai penonton yang bodoh yang berusaha merebut separuh hati yang kamu berikan untuknya. Yang berusaha menjadi pemain utama padahal nyatanya aku hanya sebagai penonton yang terlalu bermimpi.
Sia-sia aku menunggumu. Sia-sia aku peduli padamu. Sia-sia usahaku menyembuhkan lukamu. Belum sempat aku mengenalmu Belum sempat kita dekat tapi kamu sudah pergi terlebih dahulu. Bahkan sebelum kamu tau seberapa besar rasa ini untukmu. Ah betapa bodohnya aku. Bodoh. Bagaimana mungkin aku mendapatkan hatimu jika kita belum saling mengenal.
Dia sakit. Dia yang dulu memutuskan semuanya kini sakit. Dia si pemeran antagonis dan kamu si pemeran protagonis tetap rela menunggu, tetap rela merawat dia yang kini masih kamu sayang. Tetap rela merawat dia. Menunggui dia di rumah sakit. Bukan hanya dia yang kini sakit tapi ada aku si penonton yang kini juga sakit. Bukan sakit raga tapi sakit hati. Terluka. Ya aku sekali lagi harus berusaha menyembuhkan luka ini sendiri. Tanpa bantuan siapapun. Tanpa bantuanmu. Siapalah aku di matamu? Aku hanya sebagai penonton kisah kasihmu.
Bohong memang kalau aku berucap ikhlas karna sebenarnya aku memang tak ikhlas. Tak ikhlas kamu kembali pada orang yang dulu membuatmu sakit. Kamu terlalu baik untuknya. Kamu terlalu baik untuk orang sepertinya. Tapi ya sudahlah, itu sudah keputusanmu. Semoga kalian mendapatkan apa yang kalian berdua mau. Semoga kalian berdua bisa meyakinkan bapak, ibunya dan ibumu. Semoga kisah kalian berjalan lancar.

Yogyakarta
untukmu Sang Pemain Utama
Madiun

Tuesday, 3 December 2013

Aku dan Kamu, Mas Seperti Halnya Daun dan Embun

Daun dan embun. Daun dan embun selalu bersama di pagi hari. Meskipun embun hanya singgah sebentar namun daun dengan senang hati untuk disinggahi sang embun. Daun tak pernah mengenal embun. Daun hanya bersedia menampung tanpa pernah bertanya tentang siapa embun dan darimana embun itu berasal. Daun selalu senang. Daun selalu gembira. Daun selalu tersenyum. Hingga akhirnya daun merasa bahwa tanpa embun di pagi hari, dia takkan mampu melewati hari itu. Setidaknya daun itu aku dan embun itu kamu, Mas.
Ya. Semua terasa indah saat kau mulai memalingkan perasaanku atas dia dan menghadapkannya padamu, pada semua yang ada pada dirimu. Kita belum lama mengenal. Hanya beberapa minggu saja untuk mengenalmu dan itupun tidak setiap hari kita berkomunikasi. Bahkan untuk bertemu pun tak pernah tapi seperti halnya daun yang tak pernah bertanya dan tak pernah peduli siapa embun, aku selalu tak peduli seperti apa dirimu dan darimana kamu. Yang kutahu bahwa kamu dan jalan hidupmu itu berat. Jujur aku mengkhawatirkanmu, Mas.
Mungkin aneh. Mungkin tak masuk akal. Bagaimana bisa orang yang belum saling mengenal lebih dalam dan belum pernah saling bertemu bisa berkata seperti itu?
Tapi tak ada yang aneh dan tak ada yang tak masuk akal menurutku. Itu semua proses. Proses untuk mengenalmu, untuk memahami dirimu dan mengasihimu, Mas. Kamu mungkin takkan pernah tau seberapa dalam perasaan ini yang telah kamu palingkan waktu itu. Kamu juga mungkin takkan pernah tau seberapa rindunya aku padamu, seberapa pedulinya aku. Seperti daun yang merindukan embun di waktu siang.
Dan kini, proses itu terhenti. Proses untuk mengenalmu, memahami dirimu dan mengasihimu, Mas.
Aku tak tahu harus berkomunikasi lewat apa lagi semenjak kejadian hilangnya 1 diantara 2 alat komunikasi yang kau punya. Nomermu dan fotomu pun aku tak punya. Media sosialmu bahkan tidak aktif. Kamu tahu, Mas. Aku bingung. Aku sedih. Aku dan aku tak tahu harus berbuat apa. Lalu apa sekarang aku harus berhenti melewati proses ini? Membiarkanmu pergi tanpa pernah mengenalmu? Seperti halnya daun dan embun yang berpisah tanpa pernah saling mengenal lebih dekat. Sementara waktuku untuk mengenalmu itu terbatas. Sangat. Maret 2014. Kamu pergi dengan wajah berseri. Kamu mencapai impianmu selama ini. Wisuda dan kamu mungkin akan pergi dan aku? Mungkin aku antara sedih dan bahagia, Mas. Seperti daun yang merelakan embun untuk meninggalkannya selamanya. Membiarkan embun menuju tujuan utamanya.
Andai aku bisa mencegahmu untuk lebih tinggal lama lagi disini agar aku bisa mengenalmu mungkin akan kulakukan tapi kurasa kamu akan menolak untuk lebih lama tinggal disini karna kamu punya tujuan sendiri.
Aku. Saat ini hanya bisa berharap mengenalmu sebelum kamu pergi. Bertemu denganmu. Melihat wajahmu. Melihat ekspresimu yang menarikku. Yang mengingatkanku waktu kita pernah satu kelas. Yang berhasil memalingkan perasaanku dari dia yang menyakitiku menuju lubang hatimu yang kini menjebak perasaanku. Semakin aku meronta, semakin aku menolak dan semakin aku bergerak untuk lepas dan untuk keluar dari jebakanmu maka semakin kuat jebakanmu menjerat perasaan ini. Semakin berat untuk keluar dan meninggalkannya.
Seperti halnya embun yang akan pergi meninggalkan daun. Mungkin daun terasa berat melepaskan kepergian embun tapi pada akhirnya embun tetap pergi meninggalkan daun.
Ya. Pada akhirnya Aku dan Kamu, Mas seperti halnya Embun dan Daun yang akan berpisah tanpa pernah tinggal lebih lama dan takkan pernah saling mengenal lebih lama.

Klaten
03 Desember 2013
Untukmu, Mas.
2009. Madiun. Maret. 2014
:')