Maaf jika ada yang tersinggung dengan tulisan saya dibawah ini. Tulisan ini semata-mata hanya tulisan saja. Tidak ada maksud untuk menyinggung atau menyakiti perasaan pihak manapun.
Manusia itu makhluk yang ga sempurna. Tidak hanya manusia, makhluk-makhluk lain pun tidak ada yang sempurna. Yang sempurna hanyalah Allah Sang Maha Kuasa. Karna itulah manusia sering mengeluh. Mengeluh. Ya mengeluh menurut saya sendiri merupakan bentuk ketidaksempurnaan manusia dimana mengeluh itu merupakan wujud pengungkapan ekspresi manusia, wujud pengungkapan perasaan manusia atas apa yang dihadapinya.
Saya sendiri pun begitu dan tidak hanya saya tetapi setiap manusia pasti pernah mengeluh atas apa yang dihadapinya.
Misalnya, ketika seseorang mendapatkan pekerjaan lalu bekerja namun ternyata ekspektasi dan realita mengenai bekerja itu tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan pastilah ia akan mengeluh.
Ah, aku bosen nek ngene ki terus. Gawean setumpuk, gaji ora sepiro, akeh lemburre (Ah, aku bosen kalau seperti ini terus. Kerjaan numpuk, gaji ga seberapa, banyak lemburnya).
Apakah seperti itu salah? Padahal itu hanya pengungkapan ekspresi dia. Pengungkapan atas apa yang ia rasakan. Tetapi bagaimana jika ia memposting keluhannya itu pada sebuah wadah bernama social media atau media sosial atau istilah kerennya "medsos/socmed".
Socmed atau media sosial, adalah suatu wadah yang awalnya digunakan sebagai tempat untuk menjalin silahturahmi antara orang yang satu dengan orang yang lain namun berganti fungsi. Salah satu diantaranya adalah sebagai tempat yang digunakan manusia untuk meluapkan seluruh unek-unek yang ia rasakan alias sebagai "tempat sampah".
Pasti diantara kita ada yang sering menjadikan socmed sebagai "tempat sampah" bukan?
Meluapkan seluruh emosi yang kita rasakan. Mulai dari perasaan marah, sedih, galau, seneng dan perasaan tetek bengek lainnya.
Bahkan ada yang sampai di delcont karna seringnya berkeluh kesah di medsos. Ada dan saya pernah merasakan itu *itu dulu ya waktu negara api belum menyerang haha*
Saya akui waktu itu saya sering berkeluh kesah di medsos waktu saya galau tapi hanya waktu galau saja yaaa, selebihnya tidak. Tetapi menurut teman-teman saya, saya termasuk orang yang galau terus tiap hari. Nahlooo~~~
Saya pikir apakah saya salah berkeluh kesah di medsos? Kan ini medsos saya. Demikian pikiran saya waktu itu. Setelah ada yang men-delcont saya tanpa alasan jelas, saya mulai berpikir bahwa ada hak dan kepentingan orang lain di dalam medsos. Hak untuk mendapatkan kehidupan yang tenang tanpa emosi gara-gara keluhan orang lain pada medsosnya.
Setelah itu saya menyadari bahwa saya salah dan sebisa mungkin memposting hal-hal yang bermanfaat. Ada seseorang "teman" saya *waktu dia belum men-delcont semua medsos saya karna menurut dia, saya terlalu merasa penting untuk memposting segala sesuatu tentang saya beserta keluh kesah yang saya rasakan* yang ternyata lebih emmmm maaf, lebih alay dari saya. Saya mengakui bahwa saya sedikit alay tapi ternyata ada yang lebih dan lebih alay dengan segala pencitraannya *hahahaha sejenak saya tertawa bangga*. ABAIKAN :D
Ia memposting segala hal yang ia lakukan beserta keluhan-keluhan di dalam medsosnya kecuali instagram yaa. Saya mulai tidak suka dengan sikap dia yang menurut saya terlalu berlebihan. Yaaa...kami berdua belum lama mengenal dan kami berbeda fakultas. Tak masalah sebenarnya bagi saya toh itu juga haknya dia tetapi tetap saja itu menganggu.
Saya kemudian berpikir, apakah dia tidak merasa bahwa itu terlalu berlebihan untuk diposting disemua media sosialnya? Untuk tujuan apa dia memposting semua itu? Untuk mendapatkan simpati dan empati dari teman-temannya? Memang panjenengan korban bencana alam? Memang panjenengan calon pemimpin atau calon legislatif yang haus pujian dan empati dari orang banyak demi duduk di kursi yang (katanya) mewakili rakyat?
Setelah itu saya berpikir, apakah seperti itu perasaan orang-orang yang melihat postingan saya? Yang melihat segala keluh kesah saya di medsos? Yaampuuunnn malu sekali saya. Kenapa saya baru menyadarinya? Telat banget Lan Lan -_- *oke abaikan*
Nah, dari situlah saya berkesimpulan bahwa mengeluh dan memposting segala kegiatan yang dilakukan ke media sosial tidaklah salah dan tidaklah berlebihan jika postingan itu tidak mengganggu orang lain dan masih dalam batas wajar dengan kalimat sesederhana mungkin, misalnya hanya 1 atau 2 kali postingan sehari atau seminggu karena ada hak orang lain didalamnya, ada orang lain yang melihat postingan kita, ada orang lain yang terganggu saat kita memposting hal yang tidak perlu dan menggunakan kata-kata berlebihan dengan narasi yang begitu panjang untuk suatu postingan tidak jelas walaupun hal tersebut sama sekali tidak berkaitan dengan kehidupan orang tersebut.
Menurut saya seperti itu, menurut kalian?