Wednesday, 30 August 2017

Tuhan, Inikah Jalan-Mu Untukku?

Manusia.
Makhluk yang diciptakan Tuhan untuk menjadi "pengurus" di muka Bumi yang Tuhan ciptakan sedemikian rupa.
Makhluk yang punya beribu macam sifat dan kebiasaan.
Makhluk yang punya seribu macam keluh kesah, suka dan duka.
Dijatuhkan
Dibangkitkan
Diberikan kesenangan dan rasa senang
Namun juga diberikan sedih dan rasa duka
Diberikan suara tawa untuk mengekspresikan rasa suka
Diberikan air mata untuk mengekspresikan rasa duka dan kecewa
Tuhan.
Inikah Jalan-Mu untukku?
Kau jatuhkan Aku dan kau tempa Aku dengan beribu macam duka dan kesedihan hingga air mata sulit untuk Aku keluarkan.
Lalu Kau berikan Aku rasa suka dan rasa senang hingga aku tertawa hingga sulit untuk Aku keluarkan.
Apakah Kau ingin jadikan Aku manusia, makhlukMu yang kuat dan tak mudah menangis?
Tuhan.
Inikah Jalan-Mu untukku?
Inikah yang ingin Kau tunjukkan padaku?
Bagaimana lelahnya seorang ayah mencari sesuap nasi demi keluarga.
Bagaimana lelahnya seorang Siti Hajar yang lari dari Bukit Safa ke Bukit Marwah demi mencari setetes air untuk Ismail anaknya.
Seberapa besarnya rasa sabar yang dialami oleh Rasulullah dan Nabi Nuh serta para utusanMu.
Tuhan
Aku yakin padaMu
Pada semua kehendakMu
Pada semua Qada dan QadarMu
Pada semua ujian dan hadiah dariMu
Bahwa semua itu akan baik untukku.
Tuhan
Pertemukanlah Aku dengan tempat terbaik untukku menjemput riskimu.
Berilah Aku rasa sabar seperti Rasulullah dan Nabi Nuh.
Berilah Aku rasa syukur seperti Siti Hajar yang menemukan sumber mata air di dekat kaki Ismail.
Berilah Aku semangat yang besar seperti ayah yang mencari sesuap nasi demi keluarga.
Tuhan
Jika ini jalanku, dampingi Aku kapanpun dan dimanapun Aku berpijak dan menghirup udara yang Kau berikan untuk Aku dan seluruh hambaMu.
Tuntun Aku menuju riski halalMu.
Terakhir dariku.
Terima kasih atas rasa sayang yang Kau berikan padaku. Terima kasih untuk semua pelukkan yang Kau berikan padaku. Maafkan Aku yang kadang lupa padaMu.


Tertanda,

HambaMu yang tak luput dari dosa dan kekhilafan

Wednesday, 16 August 2017

Ketika Harapanmu Tak Sesuai Dengan Realita

Sebelumnya, aku mau minta maaf kalau dipostingan ini ada yang merasa tersindir. Karna memang tidak ada maksud untuk itu.

Sebenarnya Aku lelah.
Teramat lelah.
Lebih teptnya psikologisku yang lelah.
Ya lelah.
Lelah dan putus asa melihat teman-temanku sudah mendapatkan pekerjaan yang permanen, yang sesuai dengan harapan mereka.
Bukan maksudku untuk iri kepada kesuksesan mereka.
Aku hanya marah pada diriku sendiri.
Aku sedih melihat diriku seperti sekarang ini.
Belum bisa memberikan apa yang orang tuaku inginkan.
Belum bisa berbuat banyak demi kesenangan dan kebahagiaan mereka sebagaimana teman-temanku membahagiakan orangtuanya.

Aku yang teledor membiarkan kesempatan-kesempatan besar yang datang padaku pergi begitu saja.
Aku yang secara tidak sadar membiarkan diriku melakukan kesalahan yang berimbas pada hilangnya kesempatan kerja itu.

Mau jadi apa aku?

Mungkin ada hikmahnya.
Aku bisa jadi tahu siapa saja yang masih ada disaat aku seperti ini. Aku yang kembali ada di roda kehidupan terbawah.

Semoga saja aku bisa mengayuh roda kehidupan ini lebih keras agar bisa berputar ke atas

Kemana Aku Yang Dulu?

Kemana Aku yang dulu?
Pertanyaan besar yang saat ini ada dipikiranku.
Ada apa denganku sekarang?
Aku yang dulu tidak pernah se-cengeng ini hanya karna suatu hal.
Aku yang dulu akan selalu bangkit ketika terjatuh. Ketika dunia tak berpihak padaku.
Ketika seluruh dunia mengucilkanku.
Ketika dunia tak menganggapku ada.
Kemana Aku yang dulu?
Yang selalu tertawa dan tersenyum disaat keadaan sulit.
Kamu kemana kan Aku yang dulu wahai Aku yang sekarang?
Aku tahu Aku yang sekarang mudah menangis, mudah menyerah, mudah putus asa.
Hanya karna gagal dalam tes-tes kerja bukan berarti bodoh kan wahai Aku yang sekarang?
Masih banyak tempat yang mau menerimamu untuk mengaplikasikan ilmu dan pengalaman kerjamu.
Jangan menangis. Jangan kecewa terlalu lama. Jangan bersedih sepanjang hari.
Percayalah, kamu pernah melewati hal yang lebih sulit dari ini.
Tuhan sudah menyiapkan semua untukmu dengan sangat indah.
Tuhan selalu ada di dekatmu.
Lebih dekat daripada urat nadimu.
Wahai Aku yang sekarang.
Jangan putus asa.
Sudahi kesedihanmu.
Ada orang-orang yang menunggumu untuk dibahagiakan olehmu.
Ayah, Ibu dan Adikmu menunggu untuk dibahagiakan dan melihatmu bahagia dengan hidupmu, dengan pekerjaanmu
Jangan bandingkan hidupmu dengan hidup orang lain.
Karna mereka orang yang kamu sayang dan sayang padamu tidak akan mau melihatmu melakukan itu.
Wahai Aku yang sekarang. Segera kembalikan aku yang dulu. Segeralah bangkit dari kesedihanmu, dari keterpurukanmu. Dunia dan orang-orang yang sayang padamu sedang menunggumu.