Ya. Semua terasa indah saat kau mulai memalingkan perasaanku atas dia dan menghadapkannya padamu, pada semua yang ada pada dirimu. Kita belum lama mengenal. Hanya beberapa minggu saja untuk mengenalmu dan itupun tidak setiap hari kita berkomunikasi. Bahkan untuk bertemu pun tak pernah tapi seperti halnya daun yang tak pernah bertanya dan tak pernah peduli siapa embun, aku selalu tak peduli seperti apa dirimu dan darimana kamu. Yang kutahu bahwa kamu dan jalan hidupmu itu berat. Jujur aku mengkhawatirkanmu, Mas.
Mungkin aneh. Mungkin tak masuk akal. Bagaimana bisa orang yang belum saling mengenal lebih dalam dan belum pernah saling bertemu bisa berkata seperti itu?
Tapi tak ada yang aneh dan tak ada yang tak masuk akal menurutku. Itu semua proses. Proses untuk mengenalmu, untuk memahami dirimu dan mengasihimu, Mas. Kamu mungkin takkan pernah tau seberapa dalam perasaan ini yang telah kamu palingkan waktu itu. Kamu juga mungkin takkan pernah tau seberapa rindunya aku padamu, seberapa pedulinya aku. Seperti daun yang merindukan embun di waktu siang.
Dan kini, proses itu terhenti. Proses untuk mengenalmu, memahami dirimu dan mengasihimu, Mas.
Aku tak tahu harus berkomunikasi lewat apa lagi semenjak kejadian hilangnya 1 diantara 2 alat komunikasi yang kau punya. Nomermu dan fotomu pun aku tak punya. Media sosialmu bahkan tidak aktif. Kamu tahu, Mas. Aku bingung. Aku sedih. Aku dan aku tak tahu harus berbuat apa. Lalu apa sekarang aku harus berhenti melewati proses ini? Membiarkanmu pergi tanpa pernah mengenalmu? Seperti halnya daun dan embun yang berpisah tanpa pernah saling mengenal lebih dekat. Sementara waktuku untuk mengenalmu itu terbatas. Sangat. Maret 2014. Kamu pergi dengan wajah berseri. Kamu mencapai impianmu selama ini. Wisuda dan kamu mungkin akan pergi dan aku? Mungkin aku antara sedih dan bahagia, Mas. Seperti daun yang merelakan embun untuk meninggalkannya selamanya. Membiarkan embun menuju tujuan utamanya.
Andai aku bisa mencegahmu untuk lebih tinggal lama lagi disini agar aku bisa mengenalmu mungkin akan kulakukan tapi kurasa kamu akan menolak untuk lebih lama tinggal disini karna kamu punya tujuan sendiri.
Aku. Saat ini hanya bisa berharap mengenalmu sebelum kamu pergi. Bertemu denganmu. Melihat wajahmu. Melihat ekspresimu yang menarikku. Yang mengingatkanku waktu kita pernah satu kelas. Yang berhasil memalingkan perasaanku dari dia yang menyakitiku menuju lubang hatimu yang kini menjebak perasaanku. Semakin aku meronta, semakin aku menolak dan semakin aku bergerak untuk lepas dan untuk keluar dari jebakanmu maka semakin kuat jebakanmu menjerat perasaan ini. Semakin berat untuk keluar dan meninggalkannya.
Seperti halnya embun yang akan pergi meninggalkan daun. Mungkin daun terasa berat melepaskan kepergian embun tapi pada akhirnya embun tetap pergi meninggalkan daun.
Ya. Pada akhirnya Aku dan Kamu, Mas seperti halnya Embun dan Daun yang akan berpisah tanpa pernah tinggal lebih lama dan takkan pernah saling mengenal lebih lama.
Klaten
03 Desember 2013
Untukmu, Mas.
2009. Madiun. Maret. 2014
:')
No comments:
Post a Comment