Kala itu. Malam itu. Saat Sang Mentari mulai kembali ke peraduannya. Saat malam datang menggantikan siang. Saat terik mentari tergantikan oleh sejuknya angin malam, Aku, manusia yang tak berarti apapun dimatamu.
Manusia yang hanya kau anggap sebelah mata.
Manusia bodoh yang tetap memperjuangkan apa yang seharusnya tak pantas untuk diperjuangkan.
Manusia yang keras kepala menunggu, menurutmu, memberanikan dirinya untuk memulai menjalin komunikasi denganmu.
Ya Kamu yang selama ini kuperjuangkan sepenuh hati dan sekuat tenaga, yang dulu selalu kusebut namamu dalam setiap do'aku, dalam setiap interaksi antara Aku dengan Tuhanku yang juga Tuhanmu, Tuhan kita.
Kamu yang selama ini selalu menjadi teka-teki, yang selalu kutunggu.
Kubuang dan kuacuhkan harga diriku hanya demi menjalin komunikasi denganmu. Berulang kali kuketik dan kuhapus lalu kuketik lagi kata-kata itu, kata-kata yang ingin kuucapkan pertama kali padamu. Rasanya seperti kembali ke masa dimana dulu kita berdua pernah dekat satu dengan yang lain tetapi tetap saja Kamu tak menghargai usahaku, tak menghargai semua usaha yang kulakukan untuk memulai lagi semuanya dari awal.
Hanya cercaan dan amarah yang kuterima darimu.
Kamu mungkin tidak tahu betapa khawatirnya Aku yang mengetahui bahwa Kamu sedang jatuh sakit.
Kamu mungkin tidak tahu dan tidak akan pernah ingin tahu betapa Aku ingin menjengukmu, membawakan sedikit bubur untukmu disaat Kamu sakit.
Kamu mungkin tidak tahu dan tidak akan pernah ingin tahu betapa Aku ingin merawatmu.
Dan Kamu mungkin tidak tahu dan tidak akan pernah tahu betapa Aku merindukanmu saat itu mungkin sampai sekarang Aku masih merindukanmu, merindukan kenangan Kita yang tidak akan pernah menjadi Kita.
Kuterima semua amarahmu yang menurutku tak masuk akal, yang sampai sekarang Aku tak tahu hal apa yang saat itu merasukki pikiranmu sampai Kamu menyalahkan Aku yang Kamu anggap orang lain ini.
Hanya sedikit rasa marah yang kini mulai memudar yang kurasakan
Entah apa ini namanya. Mengapa tak bisa kumembencimu seperti Kamu membenciku saat ini. Terlalu lemah memang perasaan ini.
Kini Aku hanya bisa memilih pergi meninggalkanmu dan semua kenangan-kenangan itu. Kutitipkan semua kenangan itu padamu untuk Kamu simpan atau untuk Kamu buang. Aku tak ingin membawa satupun kenangan itu. Aku takut tak bisa membencimu jika Aku membawa kenangan itu walaupun sedikit. Simpanlah.
Dengan Aku pergi semoga Kamu bisa menyadari semua kesalahan-kesalahan itu.
Jadilah manusia yang baik dan semoga Kamu bisa mendapatkan yang lebih baik dan Aku semoga bisa sama sepertimu, mendapatkan seseorang yang lebih baik darimu.
Yogyakarta, 24 Januari 2015
Dari : Seseorang yang dulu pernah dekat denganmu
Untukmu yang lahir pada tanggal 03 Agustus 1993
No comments:
Post a Comment