Maaf jika ada yang tersinggung dengan tulisan saya dibawah ini. Tulisan ini semata-mata hanya tulisan saja. Tidak ada maksud untuk menyinggung atau menyakiti perasaan pihak manapun.
Manusia itu makhluk yang ga sempurna. Tidak hanya manusia, makhluk-makhluk lain pun tidak ada yang sempurna. Yang sempurna hanyalah Allah Sang Maha Kuasa. Karna itulah manusia sering mengeluh. Mengeluh. Ya mengeluh menurut saya sendiri merupakan bentuk ketidaksempurnaan manusia dimana mengeluh itu merupakan wujud pengungkapan ekspresi manusia, wujud pengungkapan perasaan manusia atas apa yang dihadapinya.
Saya sendiri pun begitu dan tidak hanya saya tetapi setiap manusia pasti pernah mengeluh atas apa yang dihadapinya.
Misalnya, ketika seseorang mendapatkan pekerjaan lalu bekerja namun ternyata ekspektasi dan realita mengenai bekerja itu tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan pastilah ia akan mengeluh.
Ah, aku bosen nek ngene ki terus. Gawean setumpuk, gaji ora sepiro, akeh lemburre (Ah, aku bosen kalau seperti ini terus. Kerjaan numpuk, gaji ga seberapa, banyak lemburnya).
Apakah seperti itu salah? Padahal itu hanya pengungkapan ekspresi dia. Pengungkapan atas apa yang ia rasakan. Tetapi bagaimana jika ia memposting keluhannya itu pada sebuah wadah bernama social media atau media sosial atau istilah kerennya "medsos/socmed".
Socmed atau media sosial, adalah suatu wadah yang awalnya digunakan sebagai tempat untuk menjalin silahturahmi antara orang yang satu dengan orang yang lain namun berganti fungsi. Salah satu diantaranya adalah sebagai tempat yang digunakan manusia untuk meluapkan seluruh unek-unek yang ia rasakan alias sebagai "tempat sampah".
Pasti diantara kita ada yang sering menjadikan socmed sebagai "tempat sampah" bukan?
Meluapkan seluruh emosi yang kita rasakan. Mulai dari perasaan marah, sedih, galau, seneng dan perasaan tetek bengek lainnya.
Bahkan ada yang sampai di delcont karna seringnya berkeluh kesah di medsos. Ada dan saya pernah merasakan itu *itu dulu ya waktu negara api belum menyerang haha*
Saya akui waktu itu saya sering berkeluh kesah di medsos waktu saya galau tapi hanya waktu galau saja yaaa, selebihnya tidak. Tetapi menurut teman-teman saya, saya termasuk orang yang galau terus tiap hari. Nahlooo~~~
Saya pikir apakah saya salah berkeluh kesah di medsos? Kan ini medsos saya. Demikian pikiran saya waktu itu. Setelah ada yang men-delcont saya tanpa alasan jelas, saya mulai berpikir bahwa ada hak dan kepentingan orang lain di dalam medsos. Hak untuk mendapatkan kehidupan yang tenang tanpa emosi gara-gara keluhan orang lain pada medsosnya.
Setelah itu saya menyadari bahwa saya salah dan sebisa mungkin memposting hal-hal yang bermanfaat. Ada seseorang "teman" saya *waktu dia belum men-delcont semua medsos saya karna menurut dia, saya terlalu merasa penting untuk memposting segala sesuatu tentang saya beserta keluh kesah yang saya rasakan* yang ternyata lebih emmmm maaf, lebih alay dari saya. Saya mengakui bahwa saya sedikit alay tapi ternyata ada yang lebih dan lebih alay dengan segala pencitraannya *hahahaha sejenak saya tertawa bangga*. ABAIKAN :D
Ia memposting segala hal yang ia lakukan beserta keluhan-keluhan di dalam medsosnya kecuali instagram yaa. Saya mulai tidak suka dengan sikap dia yang menurut saya terlalu berlebihan. Yaaa...kami berdua belum lama mengenal dan kami berbeda fakultas. Tak masalah sebenarnya bagi saya toh itu juga haknya dia tetapi tetap saja itu menganggu.
Saya kemudian berpikir, apakah dia tidak merasa bahwa itu terlalu berlebihan untuk diposting disemua media sosialnya? Untuk tujuan apa dia memposting semua itu? Untuk mendapatkan simpati dan empati dari teman-temannya? Memang panjenengan korban bencana alam? Memang panjenengan calon pemimpin atau calon legislatif yang haus pujian dan empati dari orang banyak demi duduk di kursi yang (katanya) mewakili rakyat?
Setelah itu saya berpikir, apakah seperti itu perasaan orang-orang yang melihat postingan saya? Yang melihat segala keluh kesah saya di medsos? Yaampuuunnn malu sekali saya. Kenapa saya baru menyadarinya? Telat banget Lan Lan -_- *oke abaikan*
Nah, dari situlah saya berkesimpulan bahwa mengeluh dan memposting segala kegiatan yang dilakukan ke media sosial tidaklah salah dan tidaklah berlebihan jika postingan itu tidak mengganggu orang lain dan masih dalam batas wajar dengan kalimat sesederhana mungkin, misalnya hanya 1 atau 2 kali postingan sehari atau seminggu karena ada hak orang lain didalamnya, ada orang lain yang melihat postingan kita, ada orang lain yang terganggu saat kita memposting hal yang tidak perlu dan menggunakan kata-kata berlebihan dengan narasi yang begitu panjang untuk suatu postingan tidak jelas walaupun hal tersebut sama sekali tidak berkaitan dengan kehidupan orang tersebut.
Menurut saya seperti itu, menurut kalian?
hanya sebuah tempat curahan hati dan pelarian diri dari hingar bingar dunia nyata
Thursday, 21 May 2015
Friday, 17 April 2015
Skenario Hidupku dan Hidupmu
Malam ini, saat mata ini akan memejam, saat tubuh dan pikiran ini meminta untuk segera diistirahatkan oleh Tuannya, bayangan kebersamaan kita yang mungkin tidak akan menjadi kita muncul.
Adegan demi adegan seperti adegan dalam suatu film pun muncul dimana pemerannya adalah aku dan kamu dengan settingan tempat kita KKN hampir setahun yang lalu. Iya hampir setahun yang lalu kurang lebih 9 bulan yang lalu jika aku tak salah mengira.
Adegan dimana pertama kali kita berbincang layaknya seseorang yang telah mengenal satu sama lain, saat masing-masing dari kita disibukkan dengan progam kerja. Aku dengan progam kerja KKNku dan kamu dengan progam kerja KKNmu. Posisimu waktu itu adalah sebagai ketua unit dari unit sesudah unitku. Ya aku dan kamu memang berbeda kelompok/unit KKN. Awalnya kamu berbincang dengan teman satu unitku yang juga teman satu jurusanmu namun seiring detik berlalu, aku dan kamu malah saling berbincang satu sama lain walaupun tak sampai 5 menit, setelah itu kamu kembali ke unitmu tanpa sempat aku menanyakan namamu dan kamu menanyakan namamu. Mungkin waktu itu kamu hanya menganggapku sebagai angin lalu.
Adegan kedua adalah saat acara peringatan 17 Agustus di kelurahan dimana semua unit dari mulai unitku sampai unit 6 yang ada di desa/kelurahan itu berkumpul. Aku hanya sendirian dan tidak mempunyai teman satu jurusan untuk sekedar bertegur sapa. Untungnya teman-teman satu unitku tidak segan untuk tertawa dan bercanda denganku. Mengenalkanku pada teman-teman mereka dan saat itu aku tak melihat sosokmu. Saat itu perhatianku belum terpusat padamu. Hatiku dan perhatianku masih tertinggal pada sosok Mas Dimas, seniorku di jurusan yang sama denganku.
Perlahan tapi pasti, entah dimulai darimana, perhatianku beralih padamu. Terlalu banyak adegan yang kulalui bersamamu hingga detik ini hingga tak sanggup aku menulis satu demi satu setiap hal dari adegan-adegan itu.
Lucu rasanya saat kamu datang tiba-tiba ke posko tempatku tinggal dengan ekspresi terkejut seperti itu yang mengira bahwa aku tidak di posko. Aku ingat saat itu. Aku yang sehari sebelumnya memberitahumu bahwa aku akan ke Jogja sebentar karena suatu urusan tetapi kubatalkan tanpa memberitahumu. Masih teringat dengan teramat jelas ekspresimu waktu itu dan kamu pun menolak kejadian itu setiap kali kubahas tentang hal itu dan aku hanya bisa tertawa terpingkal.
Lucu rasanya saat mengingat ban motorku tiba-tiba bocor di hari terakhir KKN yang kita alami tepat 50 meter dari posko tempatmu tinggal dan kamu dengan susah payah membawa motorku ke bengkel terdekat walaupun akhirnya aku tahu bahwa temanmulah yang membayar biaya penggantian ban itu. Seperti ftv rasanya. Sampai teman-teman satu unitku dan teman-teman satu unitmu bilang bahwa itu semua seperti adegan ftv.
Lucu rasanya, ketika aku dan kamu bertemu di depan teman-teman KKN kita tetapi masing-masing dari kita memilih untuk diam dan tak saling mengenal satu sama lain demi menghindari godaan dari teman-teman kita masing-masing.
Lucu, ketika kamu memaksa mengantarku ke rumah sakit. Itulah kali pertama kita keluar berdua tanpa ada teman-teman menikmati langit cerah penuh bintang tanpa satu tetespun air hujan yang jatuh dan tanpa ada awan mendung yang bergelayut.
Lucu ketika aku yang dengan salah tingkah mengangkat tanganmu dan meletakkan punggung telapak tanganmu di dahiku saat bersalaman padahal kamu mengulurkan tanganmu hanya untuk meminta helm yang kupakai untuk kamu bawa. Aku ingat saat itu adalah saat dimana aku akan pergi 2 hari mengunjungi sahabatku di Solo dan kamu terus memaksa mengantar dan menjemputku di stasiun.
Terlalu banyak kejadian yang kita alami. Dari mulai kejadian yang membuat tertawa sampai kejadian yang meneteskan air mata. Kuyakin kita pernah menyakiti satu sama lain dan aku pun pernah dibuat meneteskan air mata. Bukan karna aku lemah tapi karna suatu hal tentangmu yang selalu menanyakan hal yang sama, menjelaskan hal yang sama dan menyakitkan tentang hubungan kita, hubungan tanpa status begitulah aku menyebutnya. Berkali-kali kita terlibat dalam suatu pertengkaran, saling mementingkan ego tanpa peduli perasaan satu sama lain dan akulah pihak yang paling disakiti dengan pertanyaan-pertanyaan dan pernyataan-pernyataanmu itu.
Maret, tepat seminggu sebelum aku menghadapi sidang skripsiku, kamu datang kembali setelah satu setengah bulan kita memutuskan untuk menghentikan semua komunikasi. Aku benar-benar dengan hidupku yang tengah menghadapi jatuh bangun skripsi tanpa ada kamu yang selalu menyediakan bahu untukku bersandar, tanpa ada kamu yang menjadi tempatku berkeluh kesah saat susahnya memperoleh data penelitian dan susahnya bertemu dengan dosen pembimbing. Waktu itu aku hanya ingin kamu ada. Hanya ingin melibatkanmu dalam setiap proses hidup yang kulalui dan akupun ingin dilibatkan dalam setiap proses hidup yang kamu lalui.
Dulu kita berdua pernah berjanji untuk menjalani wisuda bersama. Mungkin kamu melupakan janji itu.
Aku meminta pada Tuhan untuk melupakanmu tapi berbagai hal mengingatkanku padamu. Seperti sebuah skenario agar aku tak melupakanmu dan sekarang adegan-adegan dalam skenario itu masih terus berjalan.
Sekarang aku sadar perasaan itu, perasaan yang dulu kusemai kini telah berkembang menjadi cinta. Kurasa tak berlebihan jika aku menyebut perasaanku dengan sebutan semacam itu.
Aku juga tidak suka saat berulang kali kamu bilang bahwa tidak ada yang peduli dengan hidupmu, bahwa tidak ada wanita yang menyayangimu dengan tulus. Apa kamu lupa dengan setiap detik dari hal-hal yang kita lalui. Aku yang saat ini kamu anggap sahabat adalah wanita yang mencintaimu dengan tulus tanpa syarat dan tanpa batas seperti lagu Yovie Nuno-Tanpa Batas. Lagu yang selalu membuatku ingin meneteskan air mata saat mendengarkannya. Wanita yang tidak memandang apapun dari apa yang ada pada dirimu.
Sekarang apakah kamu telah melupakan semua peristiwa yang kita lalui bersama?
Apakah kamu jujur dengan perasaanmu sendiri?
Apakah kamu puas dengan terucapnya kata sahabat itu dari dirimu sendiri?
Dariku,
Wanita yang tulus mencintaimu tanpa syarat dan tanpa batas
Adegan demi adegan seperti adegan dalam suatu film pun muncul dimana pemerannya adalah aku dan kamu dengan settingan tempat kita KKN hampir setahun yang lalu. Iya hampir setahun yang lalu kurang lebih 9 bulan yang lalu jika aku tak salah mengira.
Adegan dimana pertama kali kita berbincang layaknya seseorang yang telah mengenal satu sama lain, saat masing-masing dari kita disibukkan dengan progam kerja. Aku dengan progam kerja KKNku dan kamu dengan progam kerja KKNmu. Posisimu waktu itu adalah sebagai ketua unit dari unit sesudah unitku. Ya aku dan kamu memang berbeda kelompok/unit KKN. Awalnya kamu berbincang dengan teman satu unitku yang juga teman satu jurusanmu namun seiring detik berlalu, aku dan kamu malah saling berbincang satu sama lain walaupun tak sampai 5 menit, setelah itu kamu kembali ke unitmu tanpa sempat aku menanyakan namamu dan kamu menanyakan namamu. Mungkin waktu itu kamu hanya menganggapku sebagai angin lalu.
Adegan kedua adalah saat acara peringatan 17 Agustus di kelurahan dimana semua unit dari mulai unitku sampai unit 6 yang ada di desa/kelurahan itu berkumpul. Aku hanya sendirian dan tidak mempunyai teman satu jurusan untuk sekedar bertegur sapa. Untungnya teman-teman satu unitku tidak segan untuk tertawa dan bercanda denganku. Mengenalkanku pada teman-teman mereka dan saat itu aku tak melihat sosokmu. Saat itu perhatianku belum terpusat padamu. Hatiku dan perhatianku masih tertinggal pada sosok Mas Dimas, seniorku di jurusan yang sama denganku.
Perlahan tapi pasti, entah dimulai darimana, perhatianku beralih padamu. Terlalu banyak adegan yang kulalui bersamamu hingga detik ini hingga tak sanggup aku menulis satu demi satu setiap hal dari adegan-adegan itu.
Lucu rasanya saat kamu datang tiba-tiba ke posko tempatku tinggal dengan ekspresi terkejut seperti itu yang mengira bahwa aku tidak di posko. Aku ingat saat itu. Aku yang sehari sebelumnya memberitahumu bahwa aku akan ke Jogja sebentar karena suatu urusan tetapi kubatalkan tanpa memberitahumu. Masih teringat dengan teramat jelas ekspresimu waktu itu dan kamu pun menolak kejadian itu setiap kali kubahas tentang hal itu dan aku hanya bisa tertawa terpingkal.
Lucu rasanya saat mengingat ban motorku tiba-tiba bocor di hari terakhir KKN yang kita alami tepat 50 meter dari posko tempatmu tinggal dan kamu dengan susah payah membawa motorku ke bengkel terdekat walaupun akhirnya aku tahu bahwa temanmulah yang membayar biaya penggantian ban itu. Seperti ftv rasanya. Sampai teman-teman satu unitku dan teman-teman satu unitmu bilang bahwa itu semua seperti adegan ftv.
Lucu rasanya, ketika aku dan kamu bertemu di depan teman-teman KKN kita tetapi masing-masing dari kita memilih untuk diam dan tak saling mengenal satu sama lain demi menghindari godaan dari teman-teman kita masing-masing.
Lucu, ketika kamu memaksa mengantarku ke rumah sakit. Itulah kali pertama kita keluar berdua tanpa ada teman-teman menikmati langit cerah penuh bintang tanpa satu tetespun air hujan yang jatuh dan tanpa ada awan mendung yang bergelayut.
Lucu ketika aku yang dengan salah tingkah mengangkat tanganmu dan meletakkan punggung telapak tanganmu di dahiku saat bersalaman padahal kamu mengulurkan tanganmu hanya untuk meminta helm yang kupakai untuk kamu bawa. Aku ingat saat itu adalah saat dimana aku akan pergi 2 hari mengunjungi sahabatku di Solo dan kamu terus memaksa mengantar dan menjemputku di stasiun.
Terlalu banyak kejadian yang kita alami. Dari mulai kejadian yang membuat tertawa sampai kejadian yang meneteskan air mata. Kuyakin kita pernah menyakiti satu sama lain dan aku pun pernah dibuat meneteskan air mata. Bukan karna aku lemah tapi karna suatu hal tentangmu yang selalu menanyakan hal yang sama, menjelaskan hal yang sama dan menyakitkan tentang hubungan kita, hubungan tanpa status begitulah aku menyebutnya. Berkali-kali kita terlibat dalam suatu pertengkaran, saling mementingkan ego tanpa peduli perasaan satu sama lain dan akulah pihak yang paling disakiti dengan pertanyaan-pertanyaan dan pernyataan-pernyataanmu itu.
Maret, tepat seminggu sebelum aku menghadapi sidang skripsiku, kamu datang kembali setelah satu setengah bulan kita memutuskan untuk menghentikan semua komunikasi. Aku benar-benar dengan hidupku yang tengah menghadapi jatuh bangun skripsi tanpa ada kamu yang selalu menyediakan bahu untukku bersandar, tanpa ada kamu yang menjadi tempatku berkeluh kesah saat susahnya memperoleh data penelitian dan susahnya bertemu dengan dosen pembimbing. Waktu itu aku hanya ingin kamu ada. Hanya ingin melibatkanmu dalam setiap proses hidup yang kulalui dan akupun ingin dilibatkan dalam setiap proses hidup yang kamu lalui.
Dulu kita berdua pernah berjanji untuk menjalani wisuda bersama. Mungkin kamu melupakan janji itu.
Aku meminta pada Tuhan untuk melupakanmu tapi berbagai hal mengingatkanku padamu. Seperti sebuah skenario agar aku tak melupakanmu dan sekarang adegan-adegan dalam skenario itu masih terus berjalan.
Sekarang aku sadar perasaan itu, perasaan yang dulu kusemai kini telah berkembang menjadi cinta. Kurasa tak berlebihan jika aku menyebut perasaanku dengan sebutan semacam itu.
Aku juga tidak suka saat berulang kali kamu bilang bahwa tidak ada yang peduli dengan hidupmu, bahwa tidak ada wanita yang menyayangimu dengan tulus. Apa kamu lupa dengan setiap detik dari hal-hal yang kita lalui. Aku yang saat ini kamu anggap sahabat adalah wanita yang mencintaimu dengan tulus tanpa syarat dan tanpa batas seperti lagu Yovie Nuno-Tanpa Batas. Lagu yang selalu membuatku ingin meneteskan air mata saat mendengarkannya. Wanita yang tidak memandang apapun dari apa yang ada pada dirimu.
Sekarang apakah kamu telah melupakan semua peristiwa yang kita lalui bersama?
Apakah kamu jujur dengan perasaanmu sendiri?
Apakah kamu puas dengan terucapnya kata sahabat itu dari dirimu sendiri?
Dariku,
Wanita yang tulus mencintaimu tanpa syarat dan tanpa batas
Monday, 23 March 2015
Kamu, Kembali Lagi
Kamu, kembali lagi
Kamu, yang satu setengah bulan yang lalu memarahiku, menuduhku dan mengatakan hal-hal yang membuatku meneteskan air mata lalu menghilang tanpa kabar.
Kamu, yang hampir 7 bulan ini kukenal. Aku mengenalmu lewat kegiatan KKN.
Kegiatan KKN itulah yang membawaku mengenalmu lebih dekat, ya kamu dan aku yang kupikir takkan menjadi kita. Kenapa aku tidak bilang takkan pernah? Karna aku tak ingin mendahului kehendak Tuhan. Tak kupungkiri jika sebenarnya jauh dilubuk hati ini masih tersimpan secuil rasa sayang untukmu. Hanya secuil.
Aku menyebutkan secuil karna aku takut, takut kejadian yang membuat kamu dan aku bertengkar hebat dan saling mendiamkan satu dengan yang lain hampir satu setengah bulan lamanya terulang lagi.
Perasaan sayang yang dulu menggebu untukmu kini perlahan berubah menjadi perasaan ragu. Ragu apakah kamu benar-benar menyesal ataukah kamu hanya bermain-main dengan hubungan ini. Aku bingung apa yang harus kulakukan padamu. Menjauhimu atau menanggapi dengan baik sikapmu ini?
Bukan ini bukan PHP. Mungkin seperti halnya apa yang kurasakan, kamu pun sedang dilanda kebingungan tentang semua ini.
Ada perasaan yang membuatku bertanya-tanya dan ingin kutanyakan padamu.
Mengapa dan dengan alasan apa kamu kembali lagi? Mencoba mengungkit dan mencoba menyambung kembali hubungan kita yang sempat terputus disaat aku benar-benar mengikhlaskan kepergianmu.
Mengapa dulu kamu pergi meninggalkanku disaat aku tengah membutuhkan "pundak"mu, disaat aku ingin menangis menumpahkan semua bebanku padamu, disaat aku ingin membagi suka yang kurasakan saat itu.
Apa sebenarnya rencanamu saat ini? Menyesalkah kamu dengan semua sikapmu waktu itu?
Apa sebenarnya rencana yang Tuhan persiapkan saat Dia mendekatkan kamu dan aku lagi seperti dulu?
Ah rasanya begitu banyak pertanyaan yang tak mampu kutulis, banyak sekali. Kupikir sekarang, biar waktu saja yang menjawab semua pertanyaan-pertanyaan itu.
Semoga kamu dan aku bisa saling belajar dari keadaan-keadaan yang sempat menganggu hubungan kamu dan aku, yang sempat memisahkan kita sementara waktu.
Kamu, yang satu setengah bulan yang lalu memarahiku, menuduhku dan mengatakan hal-hal yang membuatku meneteskan air mata lalu menghilang tanpa kabar.
Kamu, yang hampir 7 bulan ini kukenal. Aku mengenalmu lewat kegiatan KKN.
Kegiatan KKN itulah yang membawaku mengenalmu lebih dekat, ya kamu dan aku yang kupikir takkan menjadi kita. Kenapa aku tidak bilang takkan pernah? Karna aku tak ingin mendahului kehendak Tuhan. Tak kupungkiri jika sebenarnya jauh dilubuk hati ini masih tersimpan secuil rasa sayang untukmu. Hanya secuil.
Aku menyebutkan secuil karna aku takut, takut kejadian yang membuat kamu dan aku bertengkar hebat dan saling mendiamkan satu dengan yang lain hampir satu setengah bulan lamanya terulang lagi.
Perasaan sayang yang dulu menggebu untukmu kini perlahan berubah menjadi perasaan ragu. Ragu apakah kamu benar-benar menyesal ataukah kamu hanya bermain-main dengan hubungan ini. Aku bingung apa yang harus kulakukan padamu. Menjauhimu atau menanggapi dengan baik sikapmu ini?
Bukan ini bukan PHP. Mungkin seperti halnya apa yang kurasakan, kamu pun sedang dilanda kebingungan tentang semua ini.
Ada perasaan yang membuatku bertanya-tanya dan ingin kutanyakan padamu.
Mengapa dan dengan alasan apa kamu kembali lagi? Mencoba mengungkit dan mencoba menyambung kembali hubungan kita yang sempat terputus disaat aku benar-benar mengikhlaskan kepergianmu.
Mengapa dulu kamu pergi meninggalkanku disaat aku tengah membutuhkan "pundak"mu, disaat aku ingin menangis menumpahkan semua bebanku padamu, disaat aku ingin membagi suka yang kurasakan saat itu.
Apa sebenarnya rencanamu saat ini? Menyesalkah kamu dengan semua sikapmu waktu itu?
Apa sebenarnya rencana yang Tuhan persiapkan saat Dia mendekatkan kamu dan aku lagi seperti dulu?
Ah rasanya begitu banyak pertanyaan yang tak mampu kutulis, banyak sekali. Kupikir sekarang, biar waktu saja yang menjawab semua pertanyaan-pertanyaan itu.
Semoga kamu dan aku bisa saling belajar dari keadaan-keadaan yang sempat menganggu hubungan kamu dan aku, yang sempat memisahkan kita sementara waktu.
Saturday, 24 January 2015
Sore itu, Malam itu
Kala itu. Malam itu. Saat Sang Mentari mulai kembali ke peraduannya. Saat malam datang menggantikan siang. Saat terik mentari tergantikan oleh sejuknya angin malam, Aku, manusia yang tak berarti apapun dimatamu.
Manusia yang hanya kau anggap sebelah mata.
Manusia bodoh yang tetap memperjuangkan apa yang seharusnya tak pantas untuk diperjuangkan.
Manusia yang keras kepala menunggu, menurutmu, memberanikan dirinya untuk memulai menjalin komunikasi denganmu.
Ya Kamu yang selama ini kuperjuangkan sepenuh hati dan sekuat tenaga, yang dulu selalu kusebut namamu dalam setiap do'aku, dalam setiap interaksi antara Aku dengan Tuhanku yang juga Tuhanmu, Tuhan kita.
Kamu yang selama ini selalu menjadi teka-teki, yang selalu kutunggu.
Kubuang dan kuacuhkan harga diriku hanya demi menjalin komunikasi denganmu. Berulang kali kuketik dan kuhapus lalu kuketik lagi kata-kata itu, kata-kata yang ingin kuucapkan pertama kali padamu. Rasanya seperti kembali ke masa dimana dulu kita berdua pernah dekat satu dengan yang lain tetapi tetap saja Kamu tak menghargai usahaku, tak menghargai semua usaha yang kulakukan untuk memulai lagi semuanya dari awal.
Hanya cercaan dan amarah yang kuterima darimu.
Kamu mungkin tidak tahu betapa khawatirnya Aku yang mengetahui bahwa Kamu sedang jatuh sakit.
Kamu mungkin tidak tahu dan tidak akan pernah ingin tahu betapa Aku ingin menjengukmu, membawakan sedikit bubur untukmu disaat Kamu sakit.
Kamu mungkin tidak tahu dan tidak akan pernah ingin tahu betapa Aku ingin merawatmu.
Dan Kamu mungkin tidak tahu dan tidak akan pernah tahu betapa Aku merindukanmu saat itu mungkin sampai sekarang Aku masih merindukanmu, merindukan kenangan Kita yang tidak akan pernah menjadi Kita.
Kuterima semua amarahmu yang menurutku tak masuk akal, yang sampai sekarang Aku tak tahu hal apa yang saat itu merasukki pikiranmu sampai Kamu menyalahkan Aku yang Kamu anggap orang lain ini.
Hanya sedikit rasa marah yang kini mulai memudar yang kurasakan
Entah apa ini namanya. Mengapa tak bisa kumembencimu seperti Kamu membenciku saat ini. Terlalu lemah memang perasaan ini.
Kini Aku hanya bisa memilih pergi meninggalkanmu dan semua kenangan-kenangan itu. Kutitipkan semua kenangan itu padamu untuk Kamu simpan atau untuk Kamu buang. Aku tak ingin membawa satupun kenangan itu. Aku takut tak bisa membencimu jika Aku membawa kenangan itu walaupun sedikit. Simpanlah.
Dengan Aku pergi semoga Kamu bisa menyadari semua kesalahan-kesalahan itu.
Jadilah manusia yang baik dan semoga Kamu bisa mendapatkan yang lebih baik dan Aku semoga bisa sama sepertimu, mendapatkan seseorang yang lebih baik darimu.
Yogyakarta, 24 Januari 2015
Dari : Seseorang yang dulu pernah dekat denganmu
Untukmu yang lahir pada tanggal 03 Agustus 1993
Manusia yang hanya kau anggap sebelah mata.
Manusia bodoh yang tetap memperjuangkan apa yang seharusnya tak pantas untuk diperjuangkan.
Manusia yang keras kepala menunggu, menurutmu, memberanikan dirinya untuk memulai menjalin komunikasi denganmu.
Ya Kamu yang selama ini kuperjuangkan sepenuh hati dan sekuat tenaga, yang dulu selalu kusebut namamu dalam setiap do'aku, dalam setiap interaksi antara Aku dengan Tuhanku yang juga Tuhanmu, Tuhan kita.
Kamu yang selama ini selalu menjadi teka-teki, yang selalu kutunggu.
Kubuang dan kuacuhkan harga diriku hanya demi menjalin komunikasi denganmu. Berulang kali kuketik dan kuhapus lalu kuketik lagi kata-kata itu, kata-kata yang ingin kuucapkan pertama kali padamu. Rasanya seperti kembali ke masa dimana dulu kita berdua pernah dekat satu dengan yang lain tetapi tetap saja Kamu tak menghargai usahaku, tak menghargai semua usaha yang kulakukan untuk memulai lagi semuanya dari awal.
Hanya cercaan dan amarah yang kuterima darimu.
Kamu mungkin tidak tahu betapa khawatirnya Aku yang mengetahui bahwa Kamu sedang jatuh sakit.
Kamu mungkin tidak tahu dan tidak akan pernah ingin tahu betapa Aku ingin menjengukmu, membawakan sedikit bubur untukmu disaat Kamu sakit.
Kamu mungkin tidak tahu dan tidak akan pernah ingin tahu betapa Aku ingin merawatmu.
Dan Kamu mungkin tidak tahu dan tidak akan pernah tahu betapa Aku merindukanmu saat itu mungkin sampai sekarang Aku masih merindukanmu, merindukan kenangan Kita yang tidak akan pernah menjadi Kita.
Kuterima semua amarahmu yang menurutku tak masuk akal, yang sampai sekarang Aku tak tahu hal apa yang saat itu merasukki pikiranmu sampai Kamu menyalahkan Aku yang Kamu anggap orang lain ini.
Hanya sedikit rasa marah yang kini mulai memudar yang kurasakan
Entah apa ini namanya. Mengapa tak bisa kumembencimu seperti Kamu membenciku saat ini. Terlalu lemah memang perasaan ini.
Kini Aku hanya bisa memilih pergi meninggalkanmu dan semua kenangan-kenangan itu. Kutitipkan semua kenangan itu padamu untuk Kamu simpan atau untuk Kamu buang. Aku tak ingin membawa satupun kenangan itu. Aku takut tak bisa membencimu jika Aku membawa kenangan itu walaupun sedikit. Simpanlah.
Dengan Aku pergi semoga Kamu bisa menyadari semua kesalahan-kesalahan itu.
Jadilah manusia yang baik dan semoga Kamu bisa mendapatkan yang lebih baik dan Aku semoga bisa sama sepertimu, mendapatkan seseorang yang lebih baik darimu.
Yogyakarta, 24 Januari 2015
Dari : Seseorang yang dulu pernah dekat denganmu
Untukmu yang lahir pada tanggal 03 Agustus 1993
Tuesday, 6 January 2015
Rumah Tempat Untuk Kembali
Ketika semesta berbicara
Ketika Sang Maha Pencipta mulai membolak-balikkan hati sepasang anak Adam yang tengah diliputi kebimbangan
Ketika Aku dan Kamu tak lagi menjadi Kita
Kita? Kapan ada kata "Kita" diantara Aku dan Kamu?
Tak pernah ada kata "Kita" diantara Aku dan Kamu selama ini
Ya karna Aku merasa hanya Aku saja yang berjuang demi ketidakjelasan hubungan yang waktu itu Aku dan Kamu jalani berdua
Bukan maksudku untuk menyakitimu. Bukan
Menurut mereka, Kamu yang terlebih dahulu menyakitiku. Tapi menurut mereka dan menurutku jelas berbeda.
Aku dan Kamu saling menyakiti satu sama lain entah dengan alasan apa
Entah argumentasiku itu benar atau tidak tapi yang kutahu Aku dan Kamu sama-sama saling menyakiti. Mungkin Aku menyakitimu tapi mungkin juga Kamu menyakitiku
Tak ada lagi air mata kesedihan yang kuteteskan untukmu
Tak ada lagi yang memanggilku dengan sebutan yang Kamu ciptakan sendiri
Tak ada lagi sapaan-sapaan konyol di pagi hari
Tak ada lagi ucapan selamat malam dan selamat tidur yang Kamu ucapkan untukku setiap malam
Tak ada lagi kebawelan-kebawelanmu saat Aku terbaring sakit, saat Aku mulai mengacuhkan pola makanku, saat mood-ku mulai berubah menjadi tak beraturan
Tak ada lagi omelanmu saat Aku tiba-tiba memarahimu. Tak ada lagi saat-saat dimana Kamu ngambek dan minta diperhatikan seperti halnya anak kecil.
Ya menyenangkan bagiku bisa mengenalmu
Aku tak membencimu, tak pula ingin melupakanmu.
Aku hanya menyimpanmu dan kenangan-kenangan itu di lapisan paling dasar
Kamu pergi tanpa kabar. Menghilang begitu saja. Semua pesan elektronik dan chat dariku pun tak Kamu gubris tetapi Kamu dapat memposting di media sosial dimana Aku menulis chat itu untukmu cukup menyakitkan untukku tapi Aku tak bisa membencimu seperti yang sudah kutulis.
Mungkin ini yang dinamakan "tulus"
Kini Aku dan Kamu memang tidak akan pernah menjadi Kita
Jika saat itu Aku tak mengatakan seperti itu padamu mungkin Kamu tidak akan seperti ini.
Harusnya Aku tidak nekat saat Kamu mengatakan hal itu padaku saat pertama kali Aku mengenalmu
Ya, Aku hanya ingin menjadi "rumah" bagimu. Rumah tempatmu selalu kembali disaat Kamu lelah dengan segala macam aktifitas yang Kamu jalani
Mungkin sekarang Kamu ingin sendiri tapi Aku akan tetap membuka "pintu" untukmu yang kini pergi jika Kamu mau itu.
Kamu bisa memilihku sebagai "rumahmu" kapanpun Kamu mau
Tapi Kamu harus membuatku yakin bahwa Kamu benar-benar memilihku sebagai "rumahmu"
Kini Aku dengan hidupku dan Kamu dengan hidupmu kecuali Kamu datang mengetuk "pintu" untuk masuk ke "rumahmu" ini dengan sekuat tenaga
Aku mungkin dengan dia entah siapa dan Kamu dengan dia entah siapa
Tapi
Aku, aku selalu menyebut namamu dalam setiap sujudku kepada Sang Pencipta
Kepada Sang Maha Pemberi Cinta dan Kasih dan mungkin kelak suatu hari nanti akan kusebut juga nama seorang laki-laki yang bisa meyakinkanku seperti dulu Kamu meyakinkanku dalam Do'aku dan sujudku berdampingan dengan namamu :)
Yogyakarta, 06 Januari 2015
Dari: Aku yang selalu bersedia menjadi "rumahmu"
Terimakasih untuk 2014 yang indah
Terimakasih untuk 3 bulan 23 hari yang berkesan
Terimakasih untuk 19 Agustus-13 Desember 2014
Terimakasih untukmu, Yang Dulu Pernah Menjadi Ketua Unit Sebelah
Ketika Sang Maha Pencipta mulai membolak-balikkan hati sepasang anak Adam yang tengah diliputi kebimbangan
Ketika Aku dan Kamu tak lagi menjadi Kita
Kita? Kapan ada kata "Kita" diantara Aku dan Kamu?
Tak pernah ada kata "Kita" diantara Aku dan Kamu selama ini
Ya karna Aku merasa hanya Aku saja yang berjuang demi ketidakjelasan hubungan yang waktu itu Aku dan Kamu jalani berdua
Bukan maksudku untuk menyakitimu. Bukan
Menurut mereka, Kamu yang terlebih dahulu menyakitiku. Tapi menurut mereka dan menurutku jelas berbeda.
Aku dan Kamu saling menyakiti satu sama lain entah dengan alasan apa
Entah argumentasiku itu benar atau tidak tapi yang kutahu Aku dan Kamu sama-sama saling menyakiti. Mungkin Aku menyakitimu tapi mungkin juga Kamu menyakitiku
Tak ada lagi air mata kesedihan yang kuteteskan untukmu
Tak ada lagi yang memanggilku dengan sebutan yang Kamu ciptakan sendiri
Tak ada lagi sapaan-sapaan konyol di pagi hari
Tak ada lagi ucapan selamat malam dan selamat tidur yang Kamu ucapkan untukku setiap malam
Tak ada lagi kebawelan-kebawelanmu saat Aku terbaring sakit, saat Aku mulai mengacuhkan pola makanku, saat mood-ku mulai berubah menjadi tak beraturan
Tak ada lagi omelanmu saat Aku tiba-tiba memarahimu. Tak ada lagi saat-saat dimana Kamu ngambek dan minta diperhatikan seperti halnya anak kecil.
Ya menyenangkan bagiku bisa mengenalmu
Aku tak membencimu, tak pula ingin melupakanmu.
Aku hanya menyimpanmu dan kenangan-kenangan itu di lapisan paling dasar
Kamu pergi tanpa kabar. Menghilang begitu saja. Semua pesan elektronik dan chat dariku pun tak Kamu gubris tetapi Kamu dapat memposting di media sosial dimana Aku menulis chat itu untukmu cukup menyakitkan untukku tapi Aku tak bisa membencimu seperti yang sudah kutulis.
Mungkin ini yang dinamakan "tulus"
Kini Aku dan Kamu memang tidak akan pernah menjadi Kita
Jika saat itu Aku tak mengatakan seperti itu padamu mungkin Kamu tidak akan seperti ini.
Harusnya Aku tidak nekat saat Kamu mengatakan hal itu padaku saat pertama kali Aku mengenalmu
Ya, Aku hanya ingin menjadi "rumah" bagimu. Rumah tempatmu selalu kembali disaat Kamu lelah dengan segala macam aktifitas yang Kamu jalani
Mungkin sekarang Kamu ingin sendiri tapi Aku akan tetap membuka "pintu" untukmu yang kini pergi jika Kamu mau itu.
Kamu bisa memilihku sebagai "rumahmu" kapanpun Kamu mau
Tapi Kamu harus membuatku yakin bahwa Kamu benar-benar memilihku sebagai "rumahmu"
Kini Aku dengan hidupku dan Kamu dengan hidupmu kecuali Kamu datang mengetuk "pintu" untuk masuk ke "rumahmu" ini dengan sekuat tenaga
Aku mungkin dengan dia entah siapa dan Kamu dengan dia entah siapa
Tapi
Aku, aku selalu menyebut namamu dalam setiap sujudku kepada Sang Pencipta
Kepada Sang Maha Pemberi Cinta dan Kasih dan mungkin kelak suatu hari nanti akan kusebut juga nama seorang laki-laki yang bisa meyakinkanku seperti dulu Kamu meyakinkanku dalam Do'aku dan sujudku berdampingan dengan namamu :)
Yogyakarta, 06 Januari 2015
Dari: Aku yang selalu bersedia menjadi "rumahmu"
Terimakasih untuk 2014 yang indah
Terimakasih untuk 3 bulan 23 hari yang berkesan
Terimakasih untuk 19 Agustus-13 Desember 2014
Terimakasih untukmu, Yang Dulu Pernah Menjadi Ketua Unit Sebelah