Keesokan harinya, Gita menghampiri Vino yang sedang duduk dikelas.
“Nih, jaket lo. Trims untuk yang kemarin karena lo udah minjemin jaket buat gue,” ucap Gita.
“Sama-sama,” jawab Vino.
Dua minggu setelah Vino masuk ke sekolah Gita, Gita menemukan Vino terkapar tak berdaya akibat dipukuli oleh para preman.
“Vin...Vino....lo kenapa ? Vino....kok nggak jawab sih ?” ucap Gita cemas. Lalu Gita meletakan jarinya di depan hidung Vino dan Gita masih merasakan adanya hembusan udara. Itu tandanya Vino masih hidup. Tanpa membuang banyak waktu, Gita segera membawa Vino ke klinik terdekat.
“Untung lo nggak apa-apa, Vin. Kok lo bisa sih sampai terkapar penuh luka gitu ?” tanya Gita penasaran.
“Ceritanya panjang. Mendingan sekarang kita pulang aja,”jawab Vino.
“Ooo....ya udah. Ayo kita pulang !!” ucap Gita.
“Eh, makasih ya udah nolongin gue. Kalau nggak ada lo, gue nggak tau gimana nasib gue selanjutnya,” ucap Vino.
“Iya, sama-sama,” jawab Gita sambil tersenyum.
Di sepanjang jalan mereka berdua banyak mengobrol. Dari mulai kesukaan sampai nomor hp. Tak terasa beberapa bulan berlalu setelah kejadian itu. Tepatnya di bulan Februari, hubungan Gita dan Vino juga semakin dekat sampai-sampai Sita pun hampir dilupakan oleh Gita karena terlalu seringnya Gita dan Vino meluangkan waktu bersama.
***
Tanggal 15 Februari.....
Dibangku taman sekolah, Vino memberanikan diri untuk mengungkapkan sesuatu yang beberapa bulan ini ia rasakan kepada Gita.
“Git, gue mau ngomong sesuatu yang penting sama lo,” ucap Vino.
“Emang lo mau ngomong apa ?” jawab Gita.
“Gue....gue.....mau ngomong kalau gue sayang sama lo. Lo mau nggak jadi cewek gue ?” ucap Vino.
Gita tak menyangka Vino akan secepat ini mengucapkan kata-kata itu kepada dirinya. Memang ini adalah ke-5 kalinya Gita merasakan ditembak oleh cowok dan semuanya ditolak olehnya. Namun entah kenapa saat Vino bilang kalau dia sayang ke Gita, Gita merasakan ada sesuatu yang beda tapi dia tak tahu apa sesuatu yang beda itu.
“Gue...gue....” jawab Gita bimbang.
“Pliss....terima gue jadi cowok lo ??!!,” ucap Vino memegang kedua tangan Gita.
“Gue....mau jadi cewek lo,” jawab Gita dengan muka memerah.
“Beneran lo mau jadi cewek gue ???” ucap Vino senang.
Gita tak menjawab dan hanya menganggukan kepala pertanda bahwa Gita menerima Vino menjadi cowoknya. Namun rupanya Vino masih menyimpan suatu rahasia tentang dirinya yang sebenarnya dari Gita. ***
Suatu hari, Sita mengetahui bahwa Vino itu adalah Alvin yang merupakan sahabat kecilnya dan Gita. Sita pun akhirnya memberanikan diri untuk menanyakan hal itu.
“Vin...gue mau tanya satu hal ke lo tapi lo harus menjawabnya dengan jujur,” ucap Sita.
“Emang lo mau nanya apa ?,” jawab Vino.
“Apa benar lo itu Alvin ?”
“Iya benar. Gue ini Alvin dan gue juga tadinya mau bilang ke lo kalau gue ini Alvin tapi lo malah udah tahu duluan sebelum gue bilang.”
“Jadi benar kalau lo itu Alvin ?”
Vino hanya menganggukan kepala pertanda bahwa jawaban Sita itu memang benar.
“Terus Gita udah tahu kalau lo ini Alvin ?”
“Sepertinya dia belum tahu. Jadi lo jangan kasih tahu dia mengenai hal ini karena gue akan bilang ke dia secara langsung.”
“Iya..gue nggak akan ngasih tahu dia dulu sebelum lo ngomong sendiri ke dia.”
“Thanks ya, Ta. Semoga nantinya Gita bisa mengerti keadaan gue waktu itu.”
“Sama-sama. Semoga saja.”
***
Bulan Februari tahun ini merupakan bulan yang istimewa bagi Gita dan Vino karena pada tahun ini Vino dan Gita merayakan hari jadinya yang telah berusia satu tahun. Tiga minggu sebelum hari jadi mereka yang berusia satu tahun, Vino membelikan Gita sebuah hadiah berupa kalung. Hadiah itu akan Vino berikan pada saat tanggal 15 Februari yang merupakan hari jadian mereka berdua. Namun naas. Saat pulang membeli hadiah untuk Gita, Vino mengalami kecelakaan hingga Vino harus dilarikan ke rumah sakit. Gita dan Sita yang mengetahui hal ini langsung menuju ke rumah sakit. Sesampainya disana, pecahlah air mata Gita. Sita yang bersamanya segera memeluk Gita mencoba untuk memberikan kesabaran pada diri Gita.
“Lo yang sabar ya, Git ?! Vino akan baik-baik aja. Lo yang tenang, ya ?!” ucap Sita. Namun Gita tetap menangis. Detik demi detik pun berlalu namun dokter belum juga keluar memberitahu kondisi Vino. Tak berapa lama kemudian, dokter yang menangani Vino keluar dari ruang UGD. Dokter itu menjelaskan kalau Vino masih akan kritis dan kemungkinan sembuh sangatlah kecil karena luka di kepalanya yang cukup parah akibat kecelakaan. Namun apabila sembuh, Vino akan mengalami kelumpuhan. Gita semakin syok mendengar penjelasan dokter.
Selama kurang lebih tiga minggu, Gita menunggui Vino yang terbaring tanpa daya di ranjang rumah sakit. Suasana di kamar tempat Vino dirawat pun sepi hanya terdengar bunyi alat pengukur denyut jantung. Namun tiba-tiba denyut nadi Vino melemah. Gita yang syok segera memanggil dokter. Selama kurang lebih 2 jam dokter berusaha menyelamatkan Vino dan akhirnya Vino menghembuskan nafas terakhirnya. Air mata pun kembali menetes dari mata Gita. Perlahan-lahan suasana duka mulai menyelimuti daerah disekitar kamar Vino.