Malam ini, saat mata ini akan memejam, saat tubuh dan pikiran ini meminta untuk segera diistirahatkan oleh Tuannya, bayangan kebersamaan kita yang mungkin tidak akan menjadi kita muncul.
Adegan demi adegan seperti adegan dalam suatu film pun muncul dimana pemerannya adalah aku dan kamu dengan settingan tempat kita KKN hampir setahun yang lalu. Iya hampir setahun yang lalu kurang lebih 9 bulan yang lalu jika aku tak salah mengira.
Adegan dimana pertama kali kita berbincang layaknya seseorang yang telah mengenal satu sama lain, saat masing-masing dari kita disibukkan dengan progam kerja. Aku dengan progam kerja KKNku dan kamu dengan progam kerja KKNmu. Posisimu waktu itu adalah sebagai ketua unit dari unit sesudah unitku. Ya aku dan kamu memang berbeda kelompok/unit KKN. Awalnya kamu berbincang dengan teman satu unitku yang juga teman satu jurusanmu namun seiring detik berlalu, aku dan kamu malah saling berbincang satu sama lain walaupun tak sampai 5 menit, setelah itu kamu kembali ke unitmu tanpa sempat aku menanyakan namamu dan kamu menanyakan namamu. Mungkin waktu itu kamu hanya menganggapku sebagai angin lalu.
Adegan kedua adalah saat acara peringatan 17 Agustus di kelurahan dimana semua unit dari mulai unitku sampai unit 6 yang ada di desa/kelurahan itu berkumpul. Aku hanya sendirian dan tidak mempunyai teman satu jurusan untuk sekedar bertegur sapa. Untungnya teman-teman satu unitku tidak segan untuk tertawa dan bercanda denganku. Mengenalkanku pada teman-teman mereka dan saat itu aku tak melihat sosokmu. Saat itu perhatianku belum terpusat padamu. Hatiku dan perhatianku masih tertinggal pada sosok Mas Dimas, seniorku di jurusan yang sama denganku.
Perlahan tapi pasti, entah dimulai darimana, perhatianku beralih padamu. Terlalu banyak adegan yang kulalui bersamamu hingga detik ini hingga tak sanggup aku menulis satu demi satu setiap hal dari adegan-adegan itu.
Lucu rasanya saat kamu datang tiba-tiba ke posko tempatku tinggal dengan ekspresi terkejut seperti itu yang mengira bahwa aku tidak di posko. Aku ingat saat itu. Aku yang sehari sebelumnya memberitahumu bahwa aku akan ke Jogja sebentar karena suatu urusan tetapi kubatalkan tanpa memberitahumu. Masih teringat dengan teramat jelas ekspresimu waktu itu dan kamu pun menolak kejadian itu setiap kali kubahas tentang hal itu dan aku hanya bisa tertawa terpingkal.
Lucu rasanya saat mengingat ban motorku tiba-tiba bocor di hari terakhir KKN yang kita alami tepat 50 meter dari posko tempatmu tinggal dan kamu dengan susah payah membawa motorku ke bengkel terdekat walaupun akhirnya aku tahu bahwa temanmulah yang membayar biaya penggantian ban itu. Seperti ftv rasanya. Sampai teman-teman satu unitku dan teman-teman satu unitmu bilang bahwa itu semua seperti adegan ftv.
Lucu rasanya, ketika aku dan kamu bertemu di depan teman-teman KKN kita tetapi masing-masing dari kita memilih untuk diam dan tak saling mengenal satu sama lain demi menghindari godaan dari teman-teman kita masing-masing.
Lucu, ketika kamu memaksa mengantarku ke rumah sakit. Itulah kali pertama kita keluar berdua tanpa ada teman-teman menikmati langit cerah penuh bintang tanpa satu tetespun air hujan yang jatuh dan tanpa ada awan mendung yang bergelayut.
Lucu ketika aku yang dengan salah tingkah mengangkat tanganmu dan meletakkan punggung telapak tanganmu di dahiku saat bersalaman padahal kamu mengulurkan tanganmu hanya untuk meminta helm yang kupakai untuk kamu bawa. Aku ingat saat itu adalah saat dimana aku akan pergi 2 hari mengunjungi sahabatku di Solo dan kamu terus memaksa mengantar dan menjemputku di stasiun.
Terlalu banyak kejadian yang kita alami. Dari mulai kejadian yang membuat tertawa sampai kejadian yang meneteskan air mata. Kuyakin kita pernah menyakiti satu sama lain dan aku pun pernah dibuat meneteskan air mata. Bukan karna aku lemah tapi karna suatu hal tentangmu yang selalu menanyakan hal yang sama, menjelaskan hal yang sama dan menyakitkan tentang hubungan kita, hubungan tanpa status begitulah aku menyebutnya. Berkali-kali kita terlibat dalam suatu pertengkaran, saling mementingkan ego tanpa peduli perasaan satu sama lain dan akulah pihak yang paling disakiti dengan pertanyaan-pertanyaan dan pernyataan-pernyataanmu itu.
Maret, tepat seminggu sebelum aku menghadapi sidang skripsiku, kamu datang kembali setelah satu setengah bulan kita memutuskan untuk menghentikan semua komunikasi. Aku benar-benar dengan hidupku yang tengah menghadapi jatuh bangun skripsi tanpa ada kamu yang selalu menyediakan bahu untukku bersandar, tanpa ada kamu yang menjadi tempatku berkeluh kesah saat susahnya memperoleh data penelitian dan susahnya bertemu dengan dosen pembimbing. Waktu itu aku hanya ingin kamu ada. Hanya ingin melibatkanmu dalam setiap proses hidup yang kulalui dan akupun ingin dilibatkan dalam setiap proses hidup yang kamu lalui.
Dulu kita berdua pernah berjanji untuk menjalani wisuda bersama. Mungkin kamu melupakan janji itu.
Aku meminta pada Tuhan untuk melupakanmu tapi berbagai hal mengingatkanku padamu. Seperti sebuah skenario agar aku tak melupakanmu dan sekarang adegan-adegan dalam skenario itu masih terus berjalan.
Sekarang aku sadar perasaan itu, perasaan yang dulu kusemai kini telah berkembang menjadi cinta. Kurasa tak berlebihan jika aku menyebut perasaanku dengan sebutan semacam itu.
Aku juga tidak suka saat berulang kali kamu bilang bahwa tidak ada yang peduli dengan hidupmu, bahwa tidak ada wanita yang menyayangimu dengan tulus. Apa kamu lupa dengan setiap detik dari hal-hal yang kita lalui. Aku yang saat ini kamu anggap sahabat adalah wanita yang mencintaimu dengan tulus tanpa syarat dan tanpa batas seperti lagu Yovie Nuno-Tanpa Batas. Lagu yang selalu membuatku ingin meneteskan air mata saat mendengarkannya. Wanita yang tidak memandang apapun dari apa yang ada pada dirimu.
Sekarang apakah kamu telah melupakan semua peristiwa yang kita lalui bersama?
Apakah kamu jujur dengan perasaanmu sendiri?
Apakah kamu puas dengan terucapnya kata sahabat itu dari dirimu sendiri?
Dariku,
Wanita yang tulus mencintaimu tanpa syarat dan tanpa batas