Sebelumnya maaf kalo sambungannya lama banget, maklum sibuk hahaha :D
Setelah Vino meninggal, Gita hanya mengurung diri di kamar tanpa mau menemui satu orang pun. Hal itu berlangsung beberapa hari setelah pemakaman Vino. Sampai suatu hari, Sita datang menemui Gita. Awalnya Gita tak ingin Sita menemuinya namun Sita tetap bersikukuh untuk menemui Gita.
“Gimana keadaan lo ? Udah agak mendingan ?” ucap Sita.
Gita tetap diam seribu bahasa. Tatapan matanya kosong.
“Mungkin ini waktu yang tepat buat ngomong ke lo tentang siapa Vino sebenarnya. Vino....Vino....itu....Alvin, sahabat masa kecil kita. Dan ini hadiah buat lo dari Vino. Tadinya kalung ini akan Vino berikan ke lo waktu hari jadian lo yang udah berumur setahun. Tapi.....sebelum dia ngasih kalung ini ke lo, sebuah mobil berkecepatan tinggi menabrak sepeda motor Vino yang saat itu tengah menuju ke rumah lo. Jadi, gue harap lo menyimpan kalung ini sebagai kado terakhir yang Vino kasih buat lo,” ucap Sita sambil meletakan kalung yang akan Vino berikan kepada Gita, disamping Gita.
”Gue sebenarnya udah tahu kalau Vino itu Alvin. Waktu itu Vino pertama kalinya menjadi murid baru di kelas dan di sekolah kita. Gue juga nggak sengaja dengar percakapan antara lo dan dia saat dia mengatakan hal itu ke lo. Gue juga udah tahu kalau dia akan mengatakan hal itu ke gue suatu saat nanti.” Sita kaget mendengar jawaban Gita. Setelah itu Gita kembali terdiam. Air matanya kini sudah kering setelah berhari-hari menangis. Di waktu yang sama, Sita juga diam. Dia masih tak percaya kalau Gita telah mengetahui semuanya.
***
Setelah Sita pulang, Gita masih tetap diam. Tak berapa lama kemudian ia beranjak mengambil kalung yang akan Vino berikan lalu pergi menuju ke sebuah pemakaman umum tempat Vino di makamkan. Gita berjalan menuju sebuah makam yang masih merah bertuliskan ALVINO EVAN RAHARDIAN di nisannya dan kemudian duduk disamping makam itu.
“Vin, gimana kabar lo ? Rasanya hidup ini sepi tanpa kehadiran lo semenjak lo meninggal. Vin, sebenarnya gue udah tahu siapa lo sebenarnya sejak pertama kali lo masuk ke sekolah gue dan saat lo ngomong ke Sita tentang identitas lo yang sebenarnya namun gue tetap diam nunggu lo ngungkapin hal itu ke gue. Kalau gue tahu bakal seperti ini seharusnya gue dulu yang bilang ke lo tentang hal itu. Gue nyesel banget dan memang dulu waktu kecil gue sempat marah ke lo tapi pelan-pelan gue udah bisa nerima kepergian lo waktu itu dan gue juga percaya kalau lo akan kembali lagi kesini untuk nemuin gue. Gue berterima kasih ke lo karna selama ini lo udah ada disamping gue untuk ngejagain gue, slalu ngebantu gue saat gue susah dan selalu menghibur gue saat gue sedih. Walaupun lo udah tiada tapi lo akan tetap ada dan hidup di dalam hati gue yang terdalam,” ucap Gita sambil menggenggam kalung yang belum sempat Vino berikan kepada Gita. “Gue janji gue nggak akan sedih lagi dan akan selalu ceria. Kalau ada waktu gue pasti kesini lagi. Gue pulang dulu ya, Vin. Semoga lo tenang di alam sana,” ucap Gita sambil mengusap kedua matanya yang mulai basah terkena air mata.
Setelah itu Gita berjalan meninggalkan tempat itu dan kembali ke rumahnya. Gita tahu kalau Februari adalah bulan yang indah untuknya namun Februari juga merupakan bulan yang teramat menyedihkan untuknya. Namun Gita tetaplah Gita. Dia tak ingin terus menerus hidup dalam kesedihan. Oleh karena itu dia berkata pada dirinya sendiri untuk tetap ceria seperti janjinya pada Vino.
***
Tiga tahun kemudian tepatnya tanggal 18 Februari......
Gita kembali datang ke makam Vino bersama seorang cowok yang sangat menyayangi Gita.
“Vin, gimana kabar lo ? Oiya maaf kalau gue baru hari ini datang kesini karna dua tahun ini gue terlalu sibuk dengan tugas kuliah gue. Vin, kenalkan ini Yuda,” ucap Gita.
“Vino, kenalkan gue Yuda,” jawab Yuda.
“Vin, Yuda adalah orang yang slama ini menghibur gue di kala sedih. Dia itu mirip banget sama lo. Dari mulai sifat, kebiasaan maupun hobi yang lo punya. Tapi walaupun gue udah bersama Yuda, gue akan tetap sayang sama lo. Gue juga udah menjelaskan ke dia kalau gue jadian dengannya bukan karna ingin menjadikan dia sebagai pelarian perasaan sayang gue ke lo tapi karna gue tulus sayang ke dia dan gue tahu kalau dia juga menyayangi gue dengan tulus,” ucap Gita.
“Iya...Gita udah menjelaskan semuanya ke gue. Gue janji akan menjaga Gita sampai kapanpun dan nggak akan pernah membuat Gita sedih. Itu semua gue lakuin juga untuk lo, Vin,” jawab Yuda.
“Kalau begitu, gue pulang dulu ya, Vin ?! Gue akan selalu ngedoain lo,” pamit Gita dan mulai berbalik meninggalkan tempat itu.
“Gue juga pamit pulang, Vin. Semoga lo tenang di alam sana,” jawab Yuda sambil berbalik badan mengikuti kemana kaki Gita melangkah pergi.
Akhirnya Februari itu tak selamanya kelam. Dibulan Februarilah Gita menemukan pengganti Vino. Hatinya pun kini terisi 2 orang yang amat dicintainya. Vino dan Yuda.Walaupun Vino sudah tiada namun Vino akan tetap hidup dan selalu ada di dalam hati Gita sampai kapanpun.
S.E.L.E.S.A.I........
No comments:
Post a Comment