Kepergianmu seperti halnya pesawat yang meninggalkan seorang anak kecil dibawahnya ketika ia (pesawat) terbang di angkasa. Di langit yang biru dengan dan atau tanpa awan.
Anak kecil yang dengan polosnya meminta sesuatu darinya. Meminta sesuatu yang jelas-jelas tak bisa anak kecil itu dapatkan.
Sesuatu yang mustahil. Bagaimana mungkin anak kecil meminta uang banyak dari sebuah benda bernama pesawat. Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa?
Tapi anak kecil itu tetap berharap, tetap mempunyai harapan atas hal tersebut. Sangat polos sekali anak itu. Tak peduli pesawat itu mau mendengar atau tidak apa yang anak itu mau dan apa yang anak itu minta. Pesawat terus melaju menuju jalan yang telah ditentukan. Jalan yang telah ia pilih.
Mungkin disini aku seperti anak kecil itu. Selalu meminta, selalu berteriak, selalu mempunyai harapan suatu hari kamu mendengar apa yang kumau dan apa yang kuminta tanpa pernah peduli kamu mendengar atau tidak, tanpa pernah peduli kamu mau merespon dan berpaling atau tidak. Tapi nyatanya dan senyatanya tetap terus melaju meninggalkan seseorang disini yang mempunyai harapan terhadapmu. Seperti pesawat yang meninggalkan seorang anak kecil dengan harapan-harapan yang anak itu miliki.
Kamu tahu? Semakin aku mencoba melupakanmu semakin aku ingat, semakin aku sakit dan semakin aku kecewa. Dan sekali lagi ada yang bertanya padaku, apa sih yang kusuka darimu? Kamu tahu jawabanku apa? Aku menjawab, tak tahu. Aku tak tahu apa yang membuatku seperti ini padamu. Mungkin ini yang namanya cinta tanpa alasan.
Mungkin juga aku tak butuh alasan atas semua itu. Atas semua rasa ini. Seperti halnya seorang anak kecil yang tak butuh alasan kenapa ia meminta seperti itu pada pesawat. Pada sebuah benda mati. Meskipun anak kecil itu berkata "Beri aku uaaaannngg, Pesawat." tapi pasti jauh dilubuk hatinya bukan itu yang ia mau. Bukan itu yang ia inginkan. Karna apa yang ia ucapkan belum tentu itu yang ia mau. Belum tentu itu yang ia inginkan. Aku mungkin bisa berkata aku melupakanmu tapi tentu bukan itu yang kuinginkan. Bukan itu yang kurasakan.
Ya, seperti halnya pesawat. Seperti halnya anak kecil itu yang harus ikhlas melepaskan pesawat itu pergi tanpa pernah mendapat apa yang ia (anak kecil itu) mau. Terselip do'a diantara beberapa harapan. Semoga Allah swt mengganti dengan yang baru dan yang lebih baik darimu. Amin
To : Madiun
No comments:
Post a Comment