hanya sebuah tempat curahan hati dan pelarian diri dari hingar bingar dunia nyata
Friday, 25 April 2014
He is....
Apa yang kamu rasakan ketika perasaan suka itu datang lagi tetapi dari orang yang berbeda? Bukan orang yang dulu kamu suka tapi dari orang baru yang bahkan belum lama ini bertatapan wajah. Yaps, kira-kira seperti itulah yang kini menghampiri. Mengisi hampir sebagian besar ruang yang tersisa dari suatu organ bernama otak dan mengisi hampir separuh ruang di dalam hati. Entah sudah berapa lama tak merasakan suatu perasaan ini. Entah sejak kapan otak dan hati menghapus setiap memori tentang dia yang tak pernah bisa dimiliki. Rasanya seperti orang gila. Tersenyum setiap kali mengingatnya. Bersemu merah ketika menatapnya. Bahkan menatap punggungnya saja, perasaan ini meronta-ronta meminta keluar dari tempat dimana ia berada. Senang sekali rasanya. Terkadang muncul pertanyaan apa yang ia pikirkan tentang aku? Apa yang ada di dalam otak dan hatinya? Mungkinkah itu aku? Tetapi pertanyaan itu hanya melintas saja tanpa pernah terucap ataupun diucapkan. Dia tidak tampan dan tidak rupawan. Dia juga seorang manusia yang tak sempurna, yang masih memiliki kekurangan sewajarnya manusia lainnya. Tetapi bukan itu yang menarik darinya. Dia baik, dia lucu, dia pandai dan yang terpenting adalah dia taat beribadah. Setidaknya dia dimasa depan bisa membimbing siapapun wanita yang beruntung memilikinya seutuhnya menjadi wanita yang lebih baik untuk menemaninya suka duka menuju jalan yang diridhoi Allah, menjadi wanita yang baik untuk anak-anak mereka. Dia berbeda dari laki-laki kebanyakan. Dia tidak mementingkan harta atau apapun. Dia bisa menerima kekurangan-kekurangan yang orang lain miliki. Punggungnya yang kokoh semakin membuat perasaan-perasaan ini bersandar. Semakin ingin bersandar dan meletakan separuh dari beban yang dirasakan. Aku ingin berbagi canda tawa tangis suka duka dan bahagia bersamanya. Aku ingin mengenalnya lebih dalam. Mengenali apa yang dia suka, mengenali apa yang dia tidak suka, mengenali apa yang dia mau, mengenali apa yang dia tidak mau dan mengenal sifat-sifat yang ada padanya. Setidaknya bertemu seminggu 2 kali adalah waktu yang cukup untuk mengendalikan perasaan ini agar tidak semakin liar tak terkendali. Cukup untuk perlahan-lahan mengenalnya dan dalam setiap aku bersujud menghadap-NYA selalu terselip namanya. Meminta padaNYA agar aku dan dia dipersatukan tak terpisahkan oleh apapun kecuali maut, meminta agar aku dan dia selalu bahagia menjalani pasang surut kehidupan bersama seperti senyum dan tawa yang selalu kami lontarkan pada waktu yang hampir selalu bersamaan. Hanya itu doa yang dapat kupanjatkan. Hanya itu yang kuinginkan jika memang takdir memungkinkan kita untuk bersama. Sekarang, kami berusaha untuk menikmati setiap proses yang kami lalui. Berharap sewajarnya tanpa perasaan yang berlebih melebihi apapun sebelum kami akhirnya bisa benar-benar dekat, benar-benar bisa saling menerima dan mengerti antara satu dengan yang lain.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment